Taman Kebenaran
Dari Imam Al-Ghazali
0. Pendahuluan#
1. Ketahuilah, keterputusan makhluk dari Allah dikarenakan mereka bergantung kepada makhluk, diri sendiri, memandang amal, dan menyimpang dari akidah yang benar melalui berbagai keinginan yang menjadi kodrat nafsu setiap orang.
Demikian pula karena cinta kepada kedudukan, harta, dunia, kekuasaan, ketenaran, suka berangan-angan, suka menunda-nunda, kikir, hawa nafsu, kesombongan, makanan dan minuman, pakaian, keduniaan mereka yang rusak, dikuasai hati mereka oleh keinginan nafsu.
Mengabaikan perjuangan melawan hawa nafsu (mujahadatu an-nafs) juga turut andil dalam meningkatkan syahwat dan kebodohan diri, menghias diri karena manusia, berperangai dengan sifat-sifat tercela seperti dengki, iri hati, bodoh, dungu, riya', dan munafik.
Selain itu mengabaikan mujahadatul an-nafs juga menyebabkan anggota tubuh seperti mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki berbuat di luar ketaatan kepada Allah, mengakibatkan kemalasan, kelalaian, dan hal-hal lain yang dapat menjauhkan diri dari Allah Swt. |ix
2. Ketahuilah, bersanding bersama makhluk dan hawa nafsu menjadi penghalang dari Allah SWT. Sedangkan melihat perbuatan (diri sendiri) termasuk syirik, karena seluruh perbuatan hamba hanya layak diatributkan kepada Allah, penciptaan maupun perwujudannya.
Adapun yang diatributkan kepada hamba hanyalah usahanya, agar dia mendapat pahala jika taat kepada-Nya dan memperoleh hukuman jika bermaksiat. Ketika hamba bergantung kepada sesuatu yang diwujudkan Allah SWT, maka hal itu disebut kasb (usaha). Karena kemampuan hamba hanyalah saat melakukan pekerjaan, bukan sebelum (hadirnya niat) dan sesudahnya (hasil dari usaha). Inilah pandangan Ahlus Sunnah. |xi
3. Panjang angan-angan akan menghalangi perbuatan baik dan kebenaran. Menunda-nunda amal menjadi salah satu tentara setan yang paling besar. Kikir, hawa nafsu, dan kesombongan adalah hal-hal yang menghancurkan. Makanan haram membuat hati gelap dan keras serta menjauhkan diri dari Allah SWT. Sebaliknya, makanan yang baik (halal) membuat hati terang dan lembut, serta mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik, yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah [2]:172) |xiii
4. Salah seorang ulama kenamaan berkata, "Pegang teguhlah ilmu, lapar, rendah diri, dan puasa. Karena ilmu adalah cahaya yang menerangi, dan lapar adalah hikmah." Abu Yazid Al-Busthami pernah mengatakan, "Tak sehari pun aku berpuasa karena Allah, melainkan aku melihat satu pintu hikmah di hatiku yang belum pernah kulihat sebelumnya." Kerendahan diri adalah ketenangan dan keselamatan, dan puasa merupakan sifat abadi yang tiada bandingannya..
Seperti Firman Allah SWT, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy-Syura [42]:11) Oleh karena itu, barang siapa mengenakan sifat ini, ia akan mewarisi ilmu, makrifat, dan musyahadah (menyaksikan Allah). Dalam sebuah hadist qudsi Allah berfirman:
"Setiap amal anak Adam (adalah) untuknya (sendiri [hasilnya]), kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku, dan Akulah yang membalasnya.". |xiv
5. Jika Allah menghendaki keburukan terhadap hamba, niscaya Dia akan menutup pintu amal dan membuka pintu kemalasan untuknya. |xv
6. Pahamilah bahwa engkau tak akan mencapai posisi kedekatan (dengan Allah) sebelum memutus enam rintangan:
1) Pertama, mencegah anggota tubuh dari pembangkangan syariat;
2) Kedua, mencegah hawa nafsu dari kebiasaan;
3) Ketiga, mencegah hati dari kesenangan hawa nafsu;
4) Keempat, mencegah sirri (batin) dari noda-noda tabiat;
5) Kelima, mencegah ruh dari asap indrawi;
6) Keenam, mencegah akan dari imajinasi-imajinasi ilusif.
a) Dari rintangan pertama, engkau akan dapat meraih sumber-sumber kebijaksanaan dalam hati.
b) Dari rintangan kedua, kau akan mengetahui rahasia ilmu-ilmu laduni.
c) Dari rintangan ketiga, akan tampak olehmu tanda-tanda munajat alam Malakut.
d) Cahaya-cahaya munazalat qurbiyah (kedekatan dengan Allah) akan muncul di hadapanmu pada rintangan keempat.
e) Lalu, pada rintangan kelima, purnama penyaksian (musyahadah) cinta akan muncul di hadapanmu.
f) Dan dari rintangan terakhir, kau akan turun ke taman-taman kesucian (hadhrah qudsiyyah). Di sini, karena menyaksikan lembutnya kedamaian, kau "lenyap" dari hal-hal indrawi. |xviii
7. Bila Allah menghendaki untuk memilihmu, Dia akan memberimu seteguk minuman dari gelas cinta-Nya. Tetapi dengan minuman itu kau semakin haus. Dengan rasa minuman itu, kau semakin rindu. Kau semakin ingin mendekat, dan dengan ketentraman itu kau semakin gelisah. Seandainya kemabukan ini telah menguasaimu, kau akan dibuat kagum, maka kau akan dibuat bingung. Di sini kau adalah murid (yang menginginkan).
Manakala kebingunganmu bertahan lama, Dia akan mengambil dan menarikmu dari dirimu sendiri, sehingga kau tetap dalam keadaan majlub dan majdzub. Saat itulah kau menjadi murad (yang diinginkan). Kukatakan, "Jika rasa cintamu telah menguasaimu, dan batasan dirimu telah melampaui batasan diam, maka kau pun berkata, 'Pada kondisi pertama kau menjelma pribadi yang memiliki kedudukan kokoh (mutamakkin), dan kedua kau menjadi pribadi yang terus berubah-ubah (mutalawwin).'" |xix
1. Fondasi Agama#
8. Dia adalah Pemberi anugerah kepada makhluk, Dia berhak memberi beban syariat (taklif) di luar kemampuan, Dia boleh menyakiti makhluk, Dia tidak wajib memerhatikan hal yang lebih maslahat, tidak ada kewajiban kecuali atas dasar syariat, pengutusan para nabi as. adalah perkara ja'iz (boleh), dan kenabian Muhammad Saw, yang didukung berbagai mukjizat merupakan kepastian.
2. Adab#
9. NABI MUHAMMAD SAW. besabda:
"Tuhanku telah mendidikku, maka Dia mendidikku dengan baik."
Adab adalah pendidikan lahir dan batin. Jika lahir dan batin seorang hamba telah bersih, ia akan beranjak menjadi sufi yang beradab. Barang siapa membiasakan diri mengikuti adab-adab sunnah maka Allah menerangi hatinya dengan cahaya makrifat. |7
10. Barang siapa beradab seperti adab orang-orang saleh, ia pantas meraih hamparan karamah. Siapa pun yang beradab layaknya adab para wali maka ia pantas mendapat hamparan musyahadah (menyaksikan Allah); siapa yang beradab semisal para nabi, maka ia layak memeroleh hamparan uns (kasih sayang Allah) dan inibisath (kemudahan dari-Nya).
Sebaiknya, barang siapa terhalang dari adab, berarti ia telah terbentangi dari segala kebaikan; barang siapa tidak terdidik dengan perintah dan didikan para guru, maka ia tidak beradab dengan Kitab dan sunnah. |8
11. Meninggalkan adab adalah faktor yang menyebabkan seseorang "terusir". Barang siapa tak berprilaku dengan adab yang baik saat berada di karpet kehormatan, ia akan dikembalikan ke pintu gerbang istana. Siapa pun tidak beradab di pintu gerbang istana, ia akan dikembalikan ke aturan binatang melata.
Adab yang paling bermanfaat adalah mendalami agama, zuhud terhadap dunia, dan mengetahui kewajibanmu terhadap Allah swt. Jika seseorang makrifat meninggalkan adab terhadap Allah, ia akan binasa bersama orang-orang binasa.
12. Dikatakan, ada tiga yang hal jika bersamanya seseorang tidak akan terasing (ghurbah): menjauhi orang ragu, adab yang baik, dan menahan diri dari tindakan menyakiti. Sebagian besar adab ahli ibadah adalah membersihkan hawa nafsu, mendidik anggota tubuh, memelihara batasan-batasan (perintah dan larangan), dan meninggalkan syahwat. |9
13. Sementara adab kebanyakan orang khusus (khawash) adalah menyucikan hati, menjaga rahasia-rahasia (asrar), menepati janji, memelihara waktu, tidak menghiraukan berbagai bisikan, etika yang baik dalam proses pencarian (thalab), dan melanggengkan kehadiran hati di sisi Allah (hudhur). Maka, barang siapa memaksa nafsunya untuk mengikuti adab, itulah orang yang beribadah kepada Allah secara ikhlas.
14. Abu 'Ubaid pun mengatakan, "Aisyah termasuk salah seorang ahli makrifat." Seorang sufi lain berkata, "Tetaplah mengikuti adab, baik lahir maupun batin. Setiap kali orang berperangai buruk secara lahir, pasti akan dihukum secara lahir. Dan setiap kali orang berbuat keburukan secara batin, ia akan dihukum secara batin." |11
15. Beliau menempatkan dirinya dalam lipatan kelemahan dan kefakiran, agar hawa nafsunya tidak leluasa dan melampaui batas. Sebab, perbuatan melamapui batas ketika sedang dalam kondisi serba cukup menjadi tabiat nafsu, sebagaimana firman Allah swt., "Ketahuilah! sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena ia melihat dirinya serba cukup." (QS. al-Alaq [96]: 6-7)
16. Pada saat mawahib (karunia ilahi) datang kepada ruh dan hati, nafsu mencuri-dengar. Jika ia memperoleh sedikit saja bagian dari anugerah, maka ia merasa cukup, lalu berbuat melampaui batas. Dari perbuatan melampaui batas ini kemudian muncul penyia-nyiaan terhadap kelapangan. Sementara itu, berlebihan dalam kelapangan akan menutup pintu kelapangan yang lebih banyak. Perbuatan melampaui batas itu terjadi karena sempitnya wada jiwa untuk menerima pemberian.
Musa as mengalami salah satu dari dua kondisi ini (berpaling dan menyambut) saat berada di hadrah (sisi Allah); matanya tak beralih dari yang diihatnya, dan tidak menoleh pada apa yang telah lepas darinya dengan menyesal, karena adabnya baik. Akan tetapi, jiwanya dipenuhi anugerah. Dan saat itulah nafsu mencuri-dengar, berharap mendapat jatah dan bagian. Ketika nafsu itu memperoleh bagian, ia merasa serba cukup. Apa yang diperolehnya itu memenuhinya hingga tumpah ruah. Ruangnya menjadi sempit.
Maka hawa nafsu itu pun melampaui batas karena menyalahgunakan kelapangan. Ketika itu, Musa berkata, "Tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat kepada engkau (QS. al-A'raf [7]: 143)". Akan tetapi, Musa tak sanggup menerima itu. Dia tak kuat bersabar dan teguh dalam menerima tambahan anugerah. |14
3. Makna Suluk dan Tasawuf#
17. Barang siapa menyia-nyiakan hima waktunya, ia adalah orang bodoh; barang siapa gegabah dengan waktunya, berarti ia orang lalai; siapa pun yang mengabaikan waktu-nya maka ia orang yang lemah. |17
18. Aku ingin bertemu dengannya,
tapi ia ingin meninggalkanku,
maka,
kutinggalkan apa yang kuhendaki,
untuk apa yang ia kehendaki.
Dengan demikian, lenyaplah dari makhluk dengan hukum Allah; dari keinginanmu melalui perintah Allah; dari kehendakmu dengan perbuatan Allah. Maka, saat itulah engkau layak menjadi wadah ilmu Allah. Karena tanda kefana'an (kelenyapan)-mu dari makhluk adalah keterputusanmu dari mereka, berhubungan dengan mereka, dan putus asa terhadap apa yang ada di tangan mereka. Tanpa kelenyapannya dari dirimu dan hawa nafsu-mu adalah meninggalkan amal dan ketergantungan kepada sebab dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. |18
19. Jangan menggerakkan sesuatu untukmu denganmu; jangan bersandar padamu untukmu; jangan membela; jangan membahayakan dirimu. Akan tetapi, serahkanlah semua itu kepada Dzat yang sejak awal telah menguasainya agar terus menguasainya sampai akhir, sebagaimana Dia menguasainya saat engkau tak sadar dalam rahim dan menyusu dalam buaian.
3.1 Menekuni Uzlah#
20. Seorang salik wajib menekuni uzlah agar dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Uzlah ada dua macam; wajib dan keutamaan. Uzlah wajib adalah uzlah dari keburukan beserta segala hal yang mengikutinya. Sedangkan uzlah keutamaan adalah uzlah dari sikap berlebihan dan yang menyertainya. |20
21. Duhai kekasihku, tutuplah kedua pelupuk matamu, dan saksikanlah apa yang kaulihat. Jika engkau berkata "Ketika itu aku tak bisa melihat", hal itu menjadi salah satu sebab karena kau melihat dengan mata. Namun, gelapnya wujud yang begitu dekat dengan mata hatimu tidak kau ketahui. Jika kau ingin melihat dan menyaksikannya di depanmu, sementara kedua pelupuk matamu tertutup, kurangilah sedikit wujudmu, atau jauhilah wujudmu. Sedangkan cara untuk sedikit mengurangi dan menjauhinya dengan mujahaddah. |22
22. Cara mujahaddah seperti cara al-Junaidi ra. yaitu dengan delapan syarat: Melanggengkan wudhu; melestarikan puasa; membakakan diam; melanggengkan khalawat; meneruskan zikir "La ilaha illa Allah"; melanggengkan hubungan hati dengan guru dan memanfaatkan ilmu darinya dengan meleburkan perbuatan dalam tindakan guru; menetapkan penafian pemikiran; mengekalkan untuk tidak membantah Allah dalam segala hal yang datang dari-Nya, baik bahaya maupun manfaat, dan meninggalkan permintaan surga atau berlindung dari neraka kepada-Nya.
23. Perbedaan antara wujud, nafsu, dan setan pada maqam penyaksian (musyahadah) bahwa pada mulanya wujud itu sangat gelap; jika sediit jernih, ia tampak di depanmu dalam bentuk mendung hitam; bila menjadi singgasana setan, ia akan berwarna merah; manakala sudah membaik dan kerendahannya menghilang, tinggallah kebenarannya.
Sehingga ia semakin jernih dan putih layaknya kapas. Apabila nafsu terlihat, warnanya biru ibarat langit. Ia memiliki sumber seperti memancar dari pusat mata air. Apabila ia menjadi singgasana setan, ia seolah mata kegelapan dan api. Mata airnya lebih kecil karena setan sama sekali tidak membawa kebaikan.
Sementara itu, pancaran nafsu itu kepada wujud, dan wujud di-didik olehnya. Jika nafsu ini jernih dan bersih, ia pancarkan kebaikan kepada wujud. Ketika nafsu memancarkan keburukan, maka lahirlah keburukan dari wujud. Dengan demikian, setan adalah api yang tak jernih, bercampur dengan gelapnya kekufuran tingkat tinggi. Sehingga terkadang setan mewujud di depanmu dalam bentuk lelaki tinggi yang berwibawa. Ia berjalan seakan mencari jalan masuk ke dalam dirimu. |23
3.2 Tasawuf#
24. Tasawuf berarti mencampakkan nafsu dalam ibadah dan menggantungkan hati dengan hal-hal ilahiah. Ada yang mengatakan, tasawuf adalah menyembunyikan kemiskinan dan melawan penyakit. Berkaitan dengan hukum seorang sufi, selayaknya kefakiran menjadi perhiasannya, sabar menjadi minumannya, ridha menjadi binatang tunggangannya, dan tawakal menjadi tingkah lakunya.
Hanya Allah SWT. yang memberinya kecukupan. Ia gunakan anggota tubuhnya untuk ketaatan. Ia potong syahwat dan bersikap zuhud terhadap dunia, wara' pada segala jatah nafsu, dan sama sekali tak memiliki keinginan pada dunia. Jika ia harus mengambil dunia, keinginan tersebut tidak melampaui batas kecukupannya. Hatinya bersih dari noda, sangat mencintai Tuhannya, dan berlari kepada Allah dengan sirri-nya.
Segala sesuatu berlindung dan damai bersamanya, tetapi ia sama sekali tidak berlindung kepada sesuatu. Dalam arti, ia tidak memiliki kecenderungan terhadap apa pun, tidak merasa tentram bersama apa pun selain sesembahannya, sembari berpegang kepada yang lebih utama dan lebih penting. Ia pun senantiasa lebih berhati-hati dalam urusan agama, dan mendahulukan Allah atas segalanya.
25. Sahl bin 'Abdullah berkata: "seorang sufi adalah orang yang hatinya bersih dari noda-noda dan penuh pikiran. Baginya, tak ada bedanya antara emas dan batu." |24
3.3 Dasar-dasar tasawuf#
26. Pada awalnya tasawuf adalah ilmu, tengahnya amal, dan akhirnya pemberian. Ilmu bisa mengungkap tujuan, amal membantu mencari, dan pemberian mencapai puncak harapan. Sementara pengikut tasawuf ada tiga tingkatan; tingkatan murid yang sedang mencari, tingkatan menengah yang sedang berjalan, dan tingkatan puncak yang telah washul. Murid adalah pemilik waktu, yang menengah pemilik hal, dan tingkat puncak adalah pemilik keyakinan.
27. Maqam murid adalah mujahaddah dan mukabadah (bersusah payah), mencicipi kepahitan dan melawan kesenangan, serta hal-hal yang mengikuti nafsu. Maqam golongan menengah; mengalami berbagai kesulitan dalam mencari murad (yang dikehendaki), memelihara kejujuran, dan mengenaan adab dalam berbagai maqam.
Ia dituntut berpegang pada adab dari berbagai tingkatan, dan termasuk orang yang mengalami bermacam-macam hal karena masih berpindah dari satu hal ke hal lain. Maka, inilah yang disebut pertambahan. Keadaan golongan puncak adalah kejernihan, keteguhan, memenuhi setiap panggilan Allah, dan telah melampaui berbagai maqam.
Ia berada pada posisi kokoh (tamkin); tidak berubah oleh berbagai kesulitan, dan tidak terpengaruh dengan beragam ahwal. Tak ada bedanya antara keadaan sulit maupun lapang, ditahan maupun diberi, kesulitan maupun kesetiaan. Makannya seperti laparnya, tidurnya layaknya terjaganya. Semua kebahagiaannya (huzhuzh) telah Fana' dan yang tersisa tinggal hak-haknya (huquq). |27
28. Orang yang menyepi bersama kekasih tidak suka dilihat oleh selain dirinya. Bahkan karena kesungguhan cintanya, sampai-sampai ia tidak rela seseorang melihat cintanya kepada kekasih. Hal ini meski sudah tinggi, tetapi di jalan rang sufi masih ada penyakit dan kekurangan. Dengan demikian, serang Mulamati lebih maju dari orang yang bertasawuf, dan lebih tertinggal daripada seorang sufi. |29
29. Bagi mereka (kaum mulamati), manusia yang paling rendah nilainya adalah orang yang ingin menampakkan zikirnya, dan menarik simpati manusia dengan berzikir. Rahasia dari prinsip yang mereka jadikan pijakan adalah zikir ruh merupakan zikir kenikmatan; ziir sirri adalah zikir sifat-sifat; zikir hati dari anugerah dan kenikmatan yaitu zikir terhadap jejak-jejak sifat; zikir nafsu itu terancam penyakit. |30
4. Makna Wushul dan Wishal#
30. Makna Wushul adalah manakala hamba mampu melihat hiasan Allah dan tenggelam karena-Nya. Jika ia melihat kepada pengetahuannya, ia tak melihat hal lain selain Allah. Bila ia melihat tujuan hidupnya, ia tidak melihat yang lain selain Dia. Ia secara total sibuk dengan Allah; dalam segala hal yang dia saksikan maupun tujuan hidup.
Dalam hal ini, ia tidak menoleh (mengandalkan) kepada dirinya sendiri untuk mengisi lahir dengan ibadah, atau mengisi batin dengan penyucian akhlak. Semua itu merupakan bentuk penyucian dan menjadi awal perjalanan. Puncaknya adalah ketika ia telah lepas sepenuhnya dari dirinya sendiri dan ber-tajarrud hanya untuk-Nya. |35
31. Selanjutnya, pahamilah bahwa fondasi jalan tasawuf adan empat hal; ijtihad, suluk, sair (perjalanan), dan thair (terbang). Ijtihad adalah mengetahui hakikat-hakikat Islam secara pasti. Suluk yaitu mengetahui dengan pasti berkaitan dengan hakikat-hakikat keimanan. Sair (berjalan) berarti mengenal hakikat-hakikat ihsan dengan sesungguhnya, dan thair (terbang) artinya mengalami esktase (jadzb) dengan jalan berlaku dermawan dan ihsan menuju makrifat Sang Raja Pemberi Anugerah.
4.1 Ittishal#
32. Imam Ats-Tsauri berkata "Ittishal adalah penyingkapan hati dan penyaksian rahasia-rahasia Ilahi dalam maqam keterkaguman (dzuhul)". Ketahuilah, ittishal dan ketersambungan (muwashalah) itu tergantung pada isyarat para guru. Setiap orang yang mencapai jernihnya keyakinan melalui pencerapan (dzauq) dan cinta (wajd), berarti ia berada dalam satu derajat wushul.
Ada pula yang diberhentikan pada maqam kebesaran (haibah) dan kedamaian karena apa yang tersingkap bagi hatinya yaitu melihat keagungan dan keindahan. Ia bertajalli melalui sifat-sifat, dan berada pada satu derajat dalam maqam wushul. Selain itu, ada juga yang naik ke maqam fana' sembari melihat cahaya keyakinan dan penyaksian pada batinnya. Ia tak lagi mengenali wujudnya karena penampakan yang dialaminya. Inilah jenis tajalli Zat khusus bagi kaum Muqarrabin sekaligus satu tingkatan wushul. |37
5. Makna Tauhid dan penyingkapan (Mukasyafah)#
33. Tauhid dan penyingkapan menjadi sandaran sekaligus buah dari bashirah, mukasyafah, musyahadah, mu'ayanah, hidup, yakin, ilham, firasat. Selain itu, tauhid berarti memisahkan yang dahulu (qadim) dengan yang baru (huduts), berpaling dari makhluk, dan menghadap kepada yang Mahadulu, hingga tak melihat keunggulan diri dibandingkan orang lain.
34. Di antara rabiat makhluk yaitu memiliki kesamaan, kemiripan, pertemuan, perpisahan, perbandingan, bersebelahan, berbaur, hulul, keluar, masuk, berubah; hilang, berganti, berpindah, dari kesucian diri, serta kebersihan sifat-sifat-Nya yang telah terampas. Kekurangan tak bisa disandarkan kepada kesempurnaan keindahan-Nya. |41
35. Jika engkau bertanya dimana ia? Maka tempat adalah makhluk-Nya. Bila engkau bertanya kapan? Waktu juga ciptaan-Nya. Ketika engkau bertanya bagaimana? Persamaan dan bagaimana merupakan kreasi-Nya. Dan tatkala engkau bertanya berapa? Maka ukuran dan kuantitas juga termasuk makhluk-Nya.
Ajal dan keabadian termasuk dalam keluasan-Nya. Alam semesta dan tempat terlipat dalam hamparan-Nya. Dzat Allah itu suci dari segala yang termuat akal, pemahaman, indra, dan analogi. Karena semuanya adalah baru, maka yang baru tidak mengetahui kecuali yang baru sebagai dalil wujudnya dan bukti penyaksiannya.
Mengenali maqam ini merupakan bentuk ketidakmampuan, dan ketidakmampuan mengetahui pengetahuan adalah pengetahuan. Tak ada yang bisa mengetahui esensi Yang Esa kecuali Yang Esa sendiri. Semua yang dicapai oleh pengetahuan seseorang yang mengesakan sekedar menjadi puncak pengetahuannya, bukan puncak Yang Esa. Mahasuci Allah dari semua itu. |42
5.1 Tauhid#
36. Pada awalnya, tauhid adalah menafikan pembedaan dan berdiri di atas segalanya. Akhirnya, ketika orang yang bertauhid melakukan pemilahan, ia tenggelam dalam mata semua, dan di mata keseluruhan dengan mata semua seraya memandang pemilahan. Ketika pagi merekah, cahaya mengalahkan sinar bintang-bintang. Dalam maqam ini, wujud ahli tauhid tenggelam pada persaksian keindahan Sang Maha Esa dalam pandangan semua.
Ia tidak menyaksikan selain Zat Yang Esa beserta sifat-sifat-Nya, dan ditarik oleh gelombang lautan tauhid dan tenggelam dalam mata penyatuan. Al-Junaid berkata, "Itu artinya, gambaran-gambaran memudar dalam dirinya, dan ilmu-ilmu masuk ke dalamnya. Dan Allah swt. tak pernah berubah." Ada yang mengatakan, "Barang siapa jatuh ke dalam lautan tauhid, maka dari waktu ke waktu ia akan semakin haus."
5.2 Macam-macam Tauhid#
37. Pahamilah, tauhid menegaskan lima prinsip yang harus diyakini oleh setiap mukalaf (orang dewasa yang wajib menjalankan hukum agama). Pertama, Wujud Allah untuk membebaskan diri dari pandangan ateisme; kedua, keesaan Allah untuk membebaskan diri dari kemusyrikan; ketiga, penyucian Allah dari keberadaan sebagai substansi maupun aksiden, akibat dari keduanya, sekaligus membebaskan diri dari penyerupaan; keempat, penciptaan Allah dengan kekuasaan dan kehendak-Nya terhadap segala sesuatu selain Dia, dan untuk membebaskan diri dari ungkapan sebab dan akibat; kelima, perancangan Allah terhadap semua ciptaan-Nya guna membebaskan diri dari pengaturan tabiat, bintang-bintang, dan malaikat. Sedangkan firman Allah, "Tiada Tuhan selain Allah", menunjukkan kelima hal ini. |44
5.3 Perbedaan antara Ilmu dan Makrifat#
38. Makrifat adalah kedekatan itu sendiri, atau adanya sesuatu yang menyentuh hati dan meninggalkan pengaruh padanya, lalu berpengaruh kepada anggota-anggota tubuh lainnya. Dengan kata lain, ilmu itu layaknya melihat api, dan makrifat laksana menggunakan api guna menghangatkan tubuh. Secara bahasa, makrifat berarti ilmu yang tidak mengandung keraguan. Sedangkan menurut istilah, ilmu yang tidak mengandung keraguan karena yang diketahui adalah Dzat Allah swt. beserta sifat-sifat-Nya. |54
39. Oh,,, andai Aku tampak tanpa hijab,
tentulah Aku melelehkan seluruh makhluk,
tapi hijab itu lembut maknanya,
dengan hijab ini,
hiduplah hati para pecinta. |55
40. Sebagian orang bertanya, "Kapankah hamba mengetahui dirinya telah mencapai makrifat?" Ia menjawab, "Jika di dalam hatinya sudah tak ada lagi ruang untuk selain Tuhannya." Seorang ulama sufi berkata, "Hakikat makrifat adalah mengetahui Allah tanpa perantara, tanpa gambaran, dan tanpa kekaburan."
41. Ja'far Ash-Shadiq ditanya, "Apakah engkau telah melihat Allah?" Ia menjawab, "Aku tidaklah menyembah Tuhan yang tak kulihat." Kemudian ia ditanya, "Bagaimana kaubisa melihat-Nya, sementara Dia adalah Dzat yang tak bisa ditangkap mata?" Ia berkata, "Pengelihatan mata tak bisa melihat-Nya, tapi hati melihat-Nya dengan kesungguhan iman, Dia tak bisa diketahui dengan indra dan tak bisa diukur oleh manusia." |56
42. Ilham berarti tercapainya makrifat tanpa disertai sebab maupun usaha, melainkan melalui ilham dari Allah karena sucinya hati dari menganggap baik segala hal yang berada di dua alam (kaunain). Sedangkan firasat (farasah) yaitu memahami pertanda atau sinyal yang datang dari Allah yang menjadi penghubung antara Dia dan hamba.
Dia mempergunakannya untuk menunjukkan hukum-hukum batin. Hal ini tak bisa terjadi, kecuali dalam tingkat perkiraan yang lebih rendah daripada ilham. Karena ilham tidak memerlukan pertanda, sedangkan firasat membutuhkan pertanda. Begitu pula dengan ilham, ada yang umum dan ada yang khusus. Dan Allah swt. Mahatahu. |57
6. Makna Nafsu, Ruh, Hati, dan Akal#
43. Ketahuilah, Allah memiliki dua pasukan tentara; satu tentara bisa dilihat dengan mata, dan satu lagi hanya bisa dilihat dengan mata hati. Hati berlaku sebagai raja, sedangkan tentara-tentara tersebut berlaku sebagai pelayan dan pendukung. Adapun tentara-tentara Allah yang bisa disaksikan dengan mata adalah tangan, kaki, telinga, mata, dan lisan. Atau secara sederhana, tentara hati bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
+ Kelompok pertama, pemantik yang mendorong untuk mendatangkan sesuatu yang sejalan dan bermanfaat, seperti ketenaran. Dan kadangkala mendorong untuk menolak hal yang bersebrangan dan berbahaya, seperti kemahiran. Pendorong ini disebut dengan kehendak (iradah).
+ Kelompok kedua, penggerak anggota-anggota tubuh untuk mencapai berbagai tujuan. Hal ini disebut dengan kekuasaan (qudrah) sekaligus merupakan tentara yang tersebar di seluruh tubuh.
+ Kelompok ketiga, yang mengetahui dan memberitahu benda-benda layaknya mata-mata, seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan peraba. |65
Hati memerlukan tentara-tentara di atas karena ia butuh kendaraan, juga untuk melakukan perjalanan menuju Allah dan melewati beberapa persinggahan guna bertemu dengan-Nya. Untuk itulah ia diciptakan. Kendaraannya tidak lain adalah tubuh, dan bekalnya yaitu ilmu dan amal. Tak mungkin seorang hamba bisa sampai kepada Allah selama ia tidak menghuni tubuh dan melampaui dunia untuk menjadikannya bekal menuju persinggahan tertinggi. |66
44. Dengan pemurnian dan pelurusan watak serta berjalan melalui fase-fase penciptaan menuju puncak tujuan, hingga berakhir dalam kejernihan dan keselarasan berbagai bagian kepada tujuannya. Pada akhirnya, ia akan siap menerima dan menahan ruh, seperti kesiapan sumbu pelita setelah menyedot minyak bakar untuk menerima dan menahan api.
Adapun an-nafkhu (peniupan) berarti menyalakan cahaya ruh di tempat penerimaannya. Karena peniupan menjadi sebab yang menyalakan, dan gambaran peniupan merupakan hal yang mustahil bagi Allah, sedangkan sebab tersebut tidak mustahil. Maka ia mengungkapkan akibat dari peniupan tersebut; menyalakan pada sumbu nuthfah. |69
45. Hakikat Dzat ruh adalah ia berdiri sendiri, bukan aksiden dan materi, bukan pula substansi yang membutuhkan tempat; tidak hinggap pada tempat maupun arah, tidak melekat pada tubuh dan alam, tidak pula terpisah, dan tidak berada di dalam atau di luar tubuh maupun alam. Kesemuaannya ini adalah sifat-sifat Allah swt, yaitu: hidup, mengetahui, kuasa, berkehendak, mendengar, melihat, dan berbicara.
46. Adapun perbuatan manusia bermula dari kehendak. Pertama-tama jejak-jejaknya tampak dalam hati. Menyebar melalui ruh hewani yang berupa uap lembut dalam lubang hati, lalu naik ke otak. Dari otak, jejak-jejak tersebut mengalir ke seluruh anggota tubuh sampai jari-jari. Kemudian, jari-jari itu pun bergerak dan menyebabkan geraknya pena, dan pena pun menggerakkan tinta. Dari tinta ini lahirlah gambar sesuatu yang ia kehendaki dalam perbendaharaan imajinasi untuk dituliskan di atas kertas. |75
7. Makna Cinta (Mahabbah)#
47. Mahabbah adalah dampak dari tauhid dan makrifat. Semua posisi dan ahwal sebelumnya menuju kepadanya serta mengambil manfaat darinya. Adapun makrifat yang murni terhadap mahabbah yaitu segala hal yang berhubungan dengan Dzat dan sifat-sifat Allah, baik meniadakan kekurangan maupun menegaskan kesempurnaan. Mahabbah semacam ini hukumnya wajib berdasarkan Kitab, Sunnah, dan Ijmak. Sedangkan yang memicu perselisihan yaitu berkaitan dengan hakikat dan mana mahabbah, yang tidak memiliki makna lain selain kecenderungan pada kenikmatan yang disukainya. |81
48. Hakikat fana' menurut indra berarti memudarnya materi dan aksiden hingga lebur secara total. Karena segala sesuatu selain Allah itu wujud dan tegak karena-Nya, bukan karena dirinya sendiri. Maka dari itu, wujudnya adalah wujud majazi. Sedangkan Dzat yang Berdiri Sendiri dan mendirikan yang lain maka wujudnya tetap dan hakiki. |83
8. Makna Kedamaian Karena Allah SWT#
49. Salah satu efek terbesar dari cinta adalah kedamaian. Dan hakikat kedamaian yaitu kebahagiaan dan kegembiraan hati karena sesuatu yang tesingkap baginya; berupa kedekatan Allah beserta keindahan dan kesempurnaan-Nya. Seorang sufi berkata, "Hakikat kedekatan adalah merasakan segala sesuatu dengan hati serta damainya nurani bersama Allah Swt." |87
50. Kemudian, makrifat ini membuahkan kedamaian dengan syarat hadirnya kejernihan. Kedamaian pun membuahkan ketenangan (sakinah), berupa kekuatan yang mengimbangi pemberuntakan hati. Ia meneguhkan dan menghentikannya sampai batas keseimbangan dalam etika kehadiran. Nikmat kedekatan dalam kedamaian ini akan menerbangkan hati para 'arifin dan melahirkan pemberontakan. Karena ketika dalam kondisi kecukupan manusia cenderung melampaui batas.
51. Adapun thuma'ninah adalah wujud setelah i'tidal yang disebabkan oleh rasa bahagia dan gembira karena hati mengetahui anugerah. Wujud ini hadir bersama kedamaian, sekaligus pada dirinya sendiri thuma'ninah menjadi tujuan. Ketenangan menjadi perantara yang mendorong untuk memiliki adab dan i'tidal (lurus). |88
52. Di antara buah mahabbah adalah kelapangan dan kemanjaan. Jika kedamaian telah abadi dan kokoh, ia tidak dikotori oleh kegelisahan hati karena tidak mampu melihat ahwal. Hal itu akan melahirkan kelonggaran dalam ucapan, perbuatan, dan munajat. Demikian itu juga sama sekali tidak layak mendapatkan penghormatan dan pengagungan yang meniscayakan hadirnya kebesaran. |89
53. Salah satu buah dari cinta adalah kerinduan, dan ini lebih utama daripada kedamaian. Karena kedamaian akan membatasi pandangan yang disingkapkan oleh pesona kekasih kepadanya, dan pandangan itu tidak membentang hingga tak terlihat olehnya. Seseorang yang merindu laksana orang kehausan. Dahaganya tak akan hilang oleh air lautan.
Karena ia lebih mengetahui persoalan-persoalan Ilahiah yang terungkap padanya dibandingkan apa yang tak terlihat olehya; laksana sebiji atom dibandingkan dengan luasnya wujud. Dan, Allah memiliki sifat yang Mahatinggi. Makrifat ini menuntut lahirnya kegalauan, kegelisahan, dan kehausan yang terus-menerus. Karena hakikat kegelisahan adalah kecepatan gerak sekaligus mencampakkan kesabaran guna meraih apa yang dicari. Sementara itu, hakikat dari kehausan yaitu pencarian yang sungguh-sungguh terhadap sesuatu yang pasti dibutuhkan.
Barang siapa yang kegelisahan dan kehausannya memuncak, ia akan mengalami kegembiraan. Sebuah kerinduan yang telah menguasai hati pencarinya. Sebab, setelah meraih semuanya, ketahuilah bahwa Wajd memiliki beberapa ahwal. Pertama, ketakjuban (dahsy), sebagaimana firman Allah swt., "Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya (Yusuf), mereka kagum kepada keelokan rupanya, dan mereka melukai (jari) tangannya." (QS. Yusuf, 12; 31). Oleh sebab itu, hakikat ketakjuban disini diartikan sebagai hilangnya kesadaran hati karena dikejutkan oleh sesuatu yang agung.
Kedua, kekaguman, yang berarti jika ia sedikit tenang dan berulang-ulang mengetuk hati maka hati menjadi kagum dan bingung, tapi ia tetap abadi. Ketiga, merasa damai dan tenang seolah tidak ada apa pun yang memasukinya, dan tak sesuatu pun yang mengetuknya. Inilah yang disebut dengan tamkin.
54. Tamkin adalah isyarat puncak ketenangan. Hal ini disebabkan oleh ahwal apa pun yang ditemui pecinta bersama Allah. Sehingga ahwal itu terkadang menguatkannya, kadangkala ia menguatkan ahwal; kadang-kadang bervariasi, dan terkadang ia mengalami kemapanan dan tenang. Demikian ini terjadi dalam setiap keadaan. Maka, ketika tenang ia naik ke tingkat lain agar tingkat yang dituju menjadi ahwal dan yang ditinggalkan menjadi maqam. |91
55. Abu al-Husain al-Warraq mengungkapkan, "Tidak akan ada kedamaian bersama Allah, melainkan disertai pengagungan. Barang siapa yang engkau damai bersamanya maka hilanglah rasa ketakjuban dari hatimu kepadanya, kecuali Allah swt. Sebab, setiap kali kau merasa damai karena-Nya, engkau akan semakin segan dan ta'zhim kepada-Nya." |92
Bisa jadi kedamaian tersebut karena taat dan ingat kepada Allah, dan membaca kalam-Nya beserta seluruh pintu kedekatan dengan-Nya. Kadar kedamaiannya berupa nikmat dan anugerah Allah, bukan kedamaian yang dialami para pecinta. Kedamaian di sini adalah peristiwa mulia yang terjadi ketika batin suci, lalu dibersihkan dengan kejujuran hati, kesempurnaan takwa, pemutusan berbagai sebab dan ketergantungan, serta penghapusan beragam pikiran dan bisikan.
56. Adapun hakikat kedamaian yaitu membersihkan wujud dengan beratnya pancaran keagungan dan beredarnya ruh dalam medan-medan penyingkapan (fath). Kedamaian ini mempunyai kemandirian untuk mencakup kedekatan, lantas menggabungkannya dengan kewibawaan.
Dalam kewibawaan (haibah) ini terkumpul ruh, dan sifat ini kemudian menjadi kedamaian Dzat. Sedangkan kewibawaan Dzat terjadi pada maqam baqa' setelah menyebrangi jembatan fana'. Keduanya bukanlah kedamaian dan kewibawaan yang lenyap karena fana'. Kewibawaan dan kedamaian sebelum fana' itu akan tampak karena menyaksikan sifat-sifat keagungan dan keindahan.
Inilah posisi pemberian warna (maqam talwin). Dan setelah fana', Kami menyingkapnya dalam maqam tamkin dan baqa' karena menyaksikan Dzat. Dari kedamaian ini, lahirlah ketundukan nafsu muthma'innah, dan dari kewibawaan muncullah kekhusyukan nafsu. Sedangkan Khudu' dan khusyuk itu berdekatan. Keduanya dibedakan dengan perbedaan yang sangat lembut yang dapat dikenali hanya melalui isyarat ruh. Sungguh, Allah Mahatahu. |93
9. Makna Haya' dan Muraqabah#
57. Ketahuilah, malu (haya') adalah maqam pertama bagi kelompok muqarrabin, sebagaimana tobat menjadi posisi pertama bagi kelompok muttaqin. Sementara ilmu yang melahirkan sifat malu yaitu pengetahuan hamba akan pengawasan Allah terhadap dirinya.
Hal ini hukumnya wajib karena merupakan bagian dari keimanan kepada Allah SWT. Demikian pula pengetahuan hamba terhadap cacat-cacat diri dan ketidakmampuannya untuk menunaikan hak-hak Allah SWT. Ini juga hukumnya wajib karena menjadi bagian dari iman kepada Allah SWT.
Terbukalah hal yang disebut dengan malu, yaitu tertunduknya mata hati karena malu kepada Allah, seperti ketika gegabah dalam melaksanakan hak Allah SWT. Sementara kadar wajib dari ahwal ini sejauh hal-hal yang mendorongnya untuk meninggalkan larangan dan menunaikan kewajiban.
Dalam arti, buah awal muraqabah adalah menjaga sekaligus mengungkap getar hati (khawatir) yang kabur, serta meniti adab bersama Allah karena menghormati pengawasan-Nya. |97
58. Malu itu ada dua: umum dan khusus. Malu yang umum, sebagaimana diperintahkan Rasulullah SAW adalah sabdanya:
"Bukan seperti itu, tetapi barangsiapa malu kepada Allah dengan malu yang sesungguhnya, hendaklah ia menjaga kepala beserta apa yang ada di dalamnya, perut beserta apa yang dimuat; dan selayaknya ia mengingat maut dan bencana. Barang siapa menginginkan akhirat maka ia tinggalkan hiasan dunia. Maka, siapa yang melakukan hal ini, berarti ia malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya." |98
59. Jika menemukan hati yang memiliki sifat zuhud dan wara', maka mereka mendarat. Bila tidak, mereka pun pergi. Malu adalah menundukkan ruh karena menghormati keagungan yang Maha Agung. Dan kedamaian (uns) adalah kenikmatan ruh karena keindahan yang sempurna. Jika keduanya (damai dan malu) bersatu, itulah puncak harapan dan ujung paling agung.
60. Ibnu Atha' mengungkapan, "Ilmu terbesar adalah kewibawaan dan malu. Jika orang tidak memiliki wibawa dan malu, maka tak ada lagi kebaikan padanya."
61. Muraqabah itu ada dua tingkatan; Muraqabah kaum Shiddiqun dan Muraqabah Ashabul Yamin:
Tingkatan pertama adalah kaum Shiddiqin Muqarabbin. Inilah muraqabah penghormatan dan pengagungan; jika hati tenggelam tatkala menyaksikan keagungan tersebut dan gelisah di bawah cahaya kewibawaan, hingga sama sekali tak memiliki ruang untuk menoleh kepada yang lain.
Muraqabah semacam ini tidak bisa dibahas secara panjang lebar, terutama berkaitan dengan penjelasan pahalanya karena terbatas di dalam hati. Dan anggota-anggota tubuh berhenti menoleh kepada munajat, terlebih pada hal-hal yang tampak.
Jika anggota-anggota ini bergerak melakukan ketataan, ia dapat dimanfaatkan sehingga tidak memerlukan perancangan dan mencari sebab untuk menjaganya dari penyimpangan terhadap sunnah-sunnah yang lurus. |100
62. Tingkatan kedua, muraqabah Ashabul Yamin yang wara'. Mereka adalah satu kaum yang lahir dan batinnya selalu melihat Allah, tetapi tidak merasa kagum karena memerhatikan keagungan. Hati mereka tetap dalam batas sedang dan memiliki ruang untuk menoleh kepada ahwal dan amal. Hanya saja, di samping melakukan amal, ia tak lepas dari muraqabah.
Memang mereka sangat malu kepada Allah hingga tidak melangkah dan berontak, kecuali setelah memastikan dan menghindari segala hal yang menyebabkan mereka dicemooh pada hari kiamat nanti.
Di dunia ini, mereka melihat pengawasan Allah SWT, tanpa harus menanti hari kiamat. Dengan demikian, engkau bisa melihat perbedaan kedua tingkatan ini dengan persaksian. |101
10. Makna Kedekatan#
63. "Sesungguhnya Allah SWT mendekati hati hamba sejauh kedekatan mereka kepada-ya. Maka, lihatlah apa yang dekat dari hatimu." (Imam Al-Junaid) |104
64. Sebagian Sufi berkata, "Aku tidak merasakan kehadiran. Maka kukatakan, 'Ya Allah, Ya Tuhan.' Lantas, aku merasakan hal itu lebih berat daripada gunung." Lalu ditanya, "Mengapa demikian?" Ia menjawab, "Karena seruan itu datang dari balik hijab. Lantas, apakah engkau melihat teman duduk memanggil sahabatnya"
Itu tiada lain merupakan isyarat, pengawasan, kehalusan, dan kelembutan.
Inilah yang digambarkan maqam yang mulia. Di dalamnya ada kedekatan, tetapi ia memberi kesadaran penghapusan dan menunjukkan kemabukan. Demikian itu terjadi bagi orang yang jiwanya hilang dalam cahaya ruhnya karena dominasi kemabukan dan kuatnya penghapusan. Ketika bangun dan sadar, maka ruhnya melepaskan diri dari jiwa, dan jiwanya melepaskan diri dari ruh. |105
Kemudian, setiap hamba kembali ke posisi dan maqam-nya masing-masing, seraya berkata, "Ya Allah, Ya Rabb" dengan lidah jiwa yang tenang, kembali ke maqam hajatnya dan posisi kehambaannya. Sementara ruh tak mampu berkata-kata karena disibukkan berbagai penyingkapan dalam kesempurnaan ahwal. Keadaan ini lebih sempurna dan lebih dekat daripada yang pertama.
Sebab, dengan lepasnya ruh melalui berbagai penyingkapan ia berada dalam kedekatan, dan membangun gambaran kehambaan dengan kembalinya kekuasaan jiwa ke posisi kefakiran. Bagi ruh, bagian kedekatan tetap terpenuhi dengan cara menegakkan gambaran kehambaan dari jiwa.
65. "Selama hamba berada dalam kedekatan, ia tak akan menjadi orang dekat selama tidak melihat kedekatan dalam kedekatan. Jika ia tidak sanggup melihat kedekatan karena kedekatan, maka itulah kedekatan." |106
11. Kemuliaan Ilmu dan Kewajiban Mencarinya#
66. Ketahuilah, karena ilmu dan amal diciptakanlah langit dan bumi beserta segala isinya. Allah SWT berfirman, "(Allah lah) yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kau mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." (QS. ath-Thalaq [65]:12)
Cukuplah ayat di atas menjadi dalil atas kemuliaan ilmu dan kewajiban mencarinya, terlebih ilmu tauhid.
Allah SWT berfirman,
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS.adz-Dzariyat [51]:56)
Cukuplah ayat ini menjadi petunjuk atas kemuliaan ibadah dan senantiasa melaksanakannya. Jadi, alangkah agung kedua hal ini karena menjadi tujuan diciptakannya dunia dan akhirat. Maka, hak seorang hamba agar tidak menyibukkan diri kecuali untuk keduanya; ilmu dan ibadah, serta tidak mengikuti selain keduanya. Namun, ilmu adalah hal yang paling mulia dari kedua mutiara ini, tetapi harus disertai ibadah. Jika tidak, ilmu akan sia-sia. |111
67. Pahamilah, adalah wajib untuk mendahulukan ilmu daripada ibadah. Hal ini karena dua alasan; pertama, agar ibadahmu menjadi sah dan benar; kedua, ilmu yang bermanfaat akan membuahkan takut dan segan kepada Allah dalam hati hamba. Takut dan segan ini akan melahirkan ketaatan dan mencegah maksiat atas taufik dan pertolongan Allah SWT. Selain kedua hal ini, tak ada yang dituju oleh hamba dalam beribadah kepada Allah SWT. Maka dari itu, engkau harus mencari ilmu yang bermanfaat. |112
68. Ketahuilah, ilmu yang menjadi kewajiban setiap mukalaf itu ada tiga macam. Pertama, ilmu tauhid. Kewajibanmu adalah sejauh mengetahui dasar-dasar agama dan kaidah-kaidah akidah. Kedua, ilmu sirri, yaitu ilmu yang berhubungan dengan hati berserta peran-perannya, baik kewajiban maupun larangan.
Ketiga, ilmu ibadah lahiriah yang berkaitan dengan tubuh dan harta. Kemudian, Allah mewajibkanmu untuk mengetahui apa yang wajib kauketahui dan menunaikan apa yang wajib kaukerjakan, serta meninggalkan segala hal yang wajib kautinggalkan.
Dengan demikian, engkau telah menunaikan semua yang diwajibkan Allah kepadamu sehingga kau ahli ilmu yang beramal. Dan, hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan. |113
12. Makna Al-Asma Al-Husna#
69. Ketahuilah, kesempurnaan dan kebahagiaan hamba itu hanya dengan berakhlak seperti akhlak Allah, serta berhias dengan makna-makna Asma dan sifat-sifat-Nya sejauh yang bisa ia gambarkan. Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa kemiripan dalam setiap sifat menghendaki kesamaan. Itu sangat jauh. |117
70. Jika dikatakan, "Lantas, apakah puncak makrifat aum arifin terhadap Allah SWT?" Kami menjawab, "Puncak makrifat mereka, jika tersingkap kemustahilah pengetahuan hakikat Dzat Allah bagi selain Allah. Dan, keluasan makrifat orang-orang yang telah menggapai ma'rifatullah denga mengetahui asma dan sifat-sifat-Nya."
Maka, sejauh apa pengetahuan dan keajaiban kekuasaan-Nya, serta keindahan ayat-ayat-Nya di dunia maupun di akhirat yang tersingkap bagi mereka. Di sinilah letak perbedaan derajat makrifat kepada Allah SWT. Allah maha mengetahui. |119
71. Karena Alhamdulillah adalah pujian, dan pujian itu kadangkala terjadi dengan memastikan kesempurnaan; terkadang dengan menampik (mencabut) kekurangan; kadang-kadang dengan mengakui ketidakberdayaan untuk menangkap pengetahuan; dan tidak jarang dengan menegaskan kesendirian dalam kesempurnaan. Dengan kata lain, kesendirian dalam kesempurnaan pujian adalah kesempurnaan puncak. |122
72. Tak satu pun penguasa yang tidak direndahkan oleh Allah karena mengikuti hawa nafsu, melampaui batas, dan durhaka kepada Tuannya. Mereka adalah kaum yang diliputi rendahnya hijab, diusir dari pintu, dan dijauhkan dari sisi (Allah). Oleh sebab itu, manusia yang terhijab dari pengagungan dan makrifat kepada-Nya di dunia, ia layak terhijab dari penghormatan dan penyaksian-Nya di akhirat. |124
13. Meyakini dan Berpegang Teguh Kepada Akidah Yang Benar#
73. Keyakinan berarti mengikat gambaran ilmu atau dugaan dalam hati tentang hal-hal gaib. Dan ilmu merupakan keyakinan yang pasti, kokoh, dan sesuai dengan kenyataan. Seorang pembesar ulama berkata, "Ilmu adalah cahaya. Jika ia turun ke dalam hati, sinarnya menembus ke dalam sesuatu yang diketahui, lalu melekat padanya sebagaimana sinar mata melekat pada sesuatu yang dilihatnya."
74. Dia maha dekat dengan segala wujud, dan lebih dekat kepada hamba daripada urat leher. Kedekatan-Nya dengan makhluk tidak seperti kedekatan makhluk satu sama lain, tetapi kedekatan yang layak bagi Allah..
Al-Junaid ra. ditanya tentang makna kedekatan, ia menjawab, "Kedekatan bukan dalam pengertian menempel, dan jauh, juga bukan terpisah. Kedekatan dan Kebersamaan-Nya tidak bisa digambarkan. Sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, kedekatan dan kebersamaan-Nya tidak seperti kebersamaan dan kedekatan seseorang. Allah SWT itu ada dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya. Sekarang, Dia sebagaimana Ada-Nya." |128
15. Hakikat Ikhlas dan Riya; Hukum dan Pengaruhnya#
75. Ketahuilah, Ikhlas menurut para ulama ada dua macam; ikhlas dalam beramal, dan ikhlas dalam mencari pahala. Adapun ikhlas dalam beramal adalah kehendak untuk mendekat kepada Allah SWT, menunaikan apa yang Ia perintahkan, serta membentuk pola hidup dan kecintaan terhadap setiap tindak perbuatan kekasih-Nya, Rasulullah SAW di kehidupan kita secara sempurna.
Munculnya keikhlasan semacam ini didorong oleh keyakinan yang benar. Kebalikan dari semuanya adalah nifaq (kemunafikan) atau mendekat kepada selain Allah SWT. Adapun ikhlas dalam mencari pahala berarti kehendak untuk memperoleh keuntungan akhirat dengan melakukan kebaikan. Kebalikannya adalah riya atau keinginan mendapatkan keuntungan dunia dengan amal akhirat, baik mengharap dari Allah maupun dari manusia.
76. Karena yang diperhitungkan dalam perilaku riya yaitu apa yang diinginkan, bukan dari siapa. ... Sebaliknya, kemunafikan itu merusak amal dan mengeluarkannya dari posisi taqarrub. Sementara riya mengakibatkan ditolaknya amal. |139
77. Jika dengan melakukan ibadah-ibadah batin seseorang menginginkan keuntungan dunia dari Allah, hal itu termasuk riya'. |140
78. Ketahuilah, telah menjadi kewajiban hamba untuk mewaspadai sepuluh hal saat mengerjakan amal, yaitu: Kemunafikan, riya, kekacauan, menyebut-nyebut kebaikam, menyakiti, menyesal (atas kebaikan), ujub, meratap, menganggap enteng, dan takut terhadap cercaan manusia.
Lawan kemunafikan adalah memurnikan amal karena Allah; lawan riya yaitu ikhlas untuk dapat melihat wajah Allah di ahirat semata; lawan kekacauan adalah takwa; lawan menyebut-nyebut kebaikan adalah menyerahkan amal kepada Allah; lawan menyakiti berupa membentengi amal; lawan menyesal berarti menangguhkan jiwa; lawan ujub yaitu mengingat anugerah Allah; lawan meratap adalah dengan memanfaatkan kebaikan; lawan menganggap enteng ialah menganggungkan pertolongan; lawan takut terhadap cercaan manusia yaitu takut kepada Allah SWT.
79. Pahamilah bahwa kemunafikan itu merusak amal, dan riya meniscayakan ditolaknya amal. Mengungkit-ungkit kebaikan dan menyakiti akan merusak sedekah seketika. Menurut sebagian ulama, kedua sifat ini menghilangkan pelipatgandaan sedekah. |141
80. Mereka pun sepakat bahwa penyesalan (terhadap kebaikan) itu merusak amal. Selain itu, ujub menghilangkan pelipatgandaan amal; ratapan dan menganggap enteng akan menringankan bobot amal. Karena itulah, engkau harus memutus rintangan yang berbahaya dan kritis ini. Dan, Allahlah tempat meminta pertolongan. |142
17. Mengenali Berbagai Bisikan, Memerangi Setan, Serta Rencana untuk Menolaknya#
81. Untuk mengetahui macam-macam bisikan, ketahuilah bahwa bisikan merupakan jejak-jejak yang muncul dalam hati seorang hamba, lalu mendorongnya untuk bertindak atau meninggalkannya. Semua itu terjadi di dalam hati dari Allah karena Dia adalah pencipta segala sesuatu.
Bisikan-bisikan itu ada empat macam: 1) diciptakan oleh Allah SWT dalam hati hamba sejak semula atau disebut bisikan saja (khawatir); 2) diciptakan sesuai tabiat manusia, atau disebut nafsu; 3) diciptakan mengikuti ajakan setan yang dinisbatkan kepadanya, dan disebut bisikan (waswas); 4) diciptakan oleh Allah SWT dan dikenal dengan ilham. |155
82. Ketahuilah, sejak awal bisikan yang berasal dari Allah itu ada yang baik sebagai penghormatan dan penegasan hujjah, dan adakalanya keburukan sebagai ujian. Bisikan yang berasal dari pemberi ilham itu hanya berupa kebaikan karena Dia adalah pemberi nasihat dan pembimbing yang tidak mengirim utusan kecuali untuk itu.
Sebaliknya, bisikan dari setan hanya berupa keburuan yang menyesatkan, dan mungkin berupa kebaikan dalam bentuk tipu daya dan istidraj. Sedangkan bisikan yang berasal dari hawa nafsu hanya berupa keburukan, dan kadangkala berbentuk kebaikan tetapi bukan untuk kebaikan itu sendiri.
83. Engkau memerlukan 3 kategori dalam membedakan setiap bisikan:
- Kategori pertama, para ulama mengatakan ; jika kauingin mengetahui bisikan baik atau buruk dan membedaan keduanya, timbanglah dengan tiga macam timbangan. Dengan begitu, niscaya keduanya akan terlihat olehmu.
+ Pertama-tama, bandingkanlah dengan syariat. Jika sesuai maka hal itu baik. Bila berlawanan, baik berupa keringanan atau kekaburan, berarti ia buruk. Namun, bila dengan timbangan ini belum jelas, bandingkanlah dengan teladan orang-orang saleh.
Sekiranya ada teladan pada mereka, itu berarti kebaikan, jika tidak, hal itu merupakan keburukan. Apabila dengan timbangan ini masih belum jelas, bandingkanlah dengan hawa nafsu. Jika secara alami bisikan itu termasuk sesuatu yang digandrungi oleh nafsu, tidak sesuai harapan kepada Allah, berarti itu keburukan.
- Kategori kedua, apabila engkau hendak membedakan antara bisikan buruk dari setan, nafsu, ataukah dari Allah maka lihatlah dari tiga sisi;
1) jika ternyata ini tetap, teratur, dan terancang dalam satu keadaan, ia berasal dari Allah atau dari hawa nafsu. Bila ternyata kacau dan tak teratur, hal itu berasal dari setan;
2) bila ternyata engkau menemukannya setelah melakukan dosa, berarti itu berasal dari Allah sebagai hukuman. Dan, jika tidak terjadi setelah engkau melakukan dosa maka itu dari setan;
3) Ketika ternyata ia tidak melemah, berkurang, dan tidak hilang karena zikir kepada Allah maka ia berasal dari hawa nafsu. Sebaliknya, jika melemah sebab zikir maka ia berasal dari setan.
- Kategori ketiga, jika engkau ingin membedakan antara bisikan baik dari Allah atau dari malaikat, lihatlah dari tiga sisi:
1) Jika tetap dalam satu keadaan maka ia berasal dari Allah SWT. Dan bila tidak tetap, ia berasal dari malaikat karena ia adalah penasihat.
2) Apabila itu terjadi setelah upaya dan ketaatan yang kau lakukan, berarti berasal dari Allah. Jika tidak, berarti ia berasal dari malaikat.
3) Sekiranya bisikan itu berhubungan dengan dasar-dasar keyakinan (ushul) dan amalan-amalan batin ia berasal dari Allah SWT. Jika berhubungan dengan cabang-cabangnya (furu') dan amalan-amalan lahir, biasanya berasal dari malaikat. Karena menurut sebagian ulama malaikat tidak memiliki jalan untuk mengetahui batin hamba. |157
- Adapun bisikan baik yang berasal dari setan merupakan sebentuk penggiringan (istidraj) menuju keburukan yang melebihi kebaikan itu sendiri. Karena itu, perhatikanlah, jika engkau melihat dirimu dalam mengerjakan perbuatan yang terbesit dalam pikiran itu:
+ dengan semangat, bukan karena takut;
+ dengan tergesa-gesa, tidak dengan tenang;
+ dengan rasa tenang, bukan merasa takut;
+ tanpa melihat dampaknya, tidak dengan sadar;
ketahuilah, bisikan itu berasal dari setan maka jauhilah. Dan, ketika kaulihat dirimu dalam kebalikan itu semua, ketahuilah bahwa bisikan itu berasal dari Allah atau dari malaikat. |158
18. Dua Puluh Makna Bahaya Lidah#
84. Ketahuilah, berbicara merupakan sarana mencapai tujuan. Segala tujuan terpuji bisa dicapai dengan kejujuran maupun dusta. Maka dusta dalam hal ini hukumnya haram. Jika hanya bisa diraih dengan dusta dan tak bisa dengan kejujuran, maka dusta dalam perkara ini hukumnya mubah. Inilah batasannya manakala meraih tujuan tersebut adalah perkara yang wajib. |163
19. Perihal Perut dan penjagaannya#
85. Syariat itu memiliki dua hukum; hukum jawaz (boleh), dan hukum ideal atau lebih waspada. Hukum yang boleh ini kita sebut dengan hukum syariat, sedangkan yang ideal dan lebih berhati-hati kita sebut dengan wira'i. Allah SWT Mahatahu.
Adapun batasan berlebihan dalam hal-hal halal atau mubah secara umum ada beberapa macam:
+ Pertama, jika hamba mengambil makanan dalam rangka berbangga-bangga, berlomba-lomba dalam banyaknya, dan riya. Kesemuanya ini meniscayakan datangnya celaan pada perbuatan lahiriah serta azab pada batinnya karena tujuannya untuk perbuatan maksiat. Dan, seseorang yang memiliki niat semacam ini akan diancam oleh azab.
+ Kedua, bila hamba meraih makanan yang halal guna menuruti gejolak nafsu semata. Perbuatan ini menghendaki penahanan dan hisab.
+ Ketiga, jika dalam keadaan uzur seorang hamba meraih makanan yang halal sejauh dapat membantunya untuk ibadah kepada tuhannya. Inilah kebiaan dan adab. Tidak dihisab maupun dicela, bahkan mendatangkan pahala dan pujian. Allah SWT Mahatahu. |173
20. Mengenal Rekayasa dan Tipu Daya Setan#
86. Mengenal rekayasa dan tipu daya setan terhadap manusia saat berbuat ketaatan dapat dilakukan dengan tujuh cara:
1) Setan akan menghalangi hamba untuk berbuat kataatan. Jika Allah melindunginya dari bujukan ini, setan menyuruhnya untuk menunda-nunda amal;
2) Bila Allah menyelamatkannya dari hal ini maka setan akan mendorongnya untuk tergesa-gesa;
3) Manakala Allah menyelamatkannya dari rekayasa ini, setan pun memerintahkan untuk menyempurnakan amal dengan tujuan riya;
4) Apabila Allah menyelamatkannya dari rekayasa ini maka setan memasukkan sikap ujub ke dalam hatinya;
5) Ketika setan melihat hal itu padanya, ia pun menyuruh hamba untuk bersungguh-sungguh dalam kesendirian, seraya berkata, "Sesungguhnya Allah akan menampakkannya kepadamu." Dengan perkataan ini, setan menghendaki terbentuknya sikap riya;
6) Jika hamba mencukupkan diri dengan ilmu Allah SWT maka ia akan selamat dari setan;
7) Apabila hamba tidak mematuhi setan dalam semua ini, dan setan tak mampu lagi menggodanya, ia pun berkata, "Engkau tak memerlukan amal ini. Karena, jika engkau diciptakan sebagai orang yang bahagia maka meninggalkan amal tak akan membahayakanmu.
Dan jika engkau ditakdirkan sebagai orang yang sengasara maka amal ini tak akan berguna untukmu." Dengan demikian, bila Allah melindungi hamba-Nya dari rekayasa ini, ia akan berkata, "Aku adalah hamba, dan seorang hamba wajib mengikuti perintah Tuannya. Sedangkan Sang Tuan bisa berbuat apa saja dan memutuskan sekehendak-Nya," Maka.. atas pertolongan Allah SWT ia selamat dari setan. |178
20.1 Mewaspadai Nafsu#
87. Halangan keempat adalah nafsu. Engkau harus mewaspadai nafsu ini karena ia adalah musuh yang paling berbahaya. Menaklukkan nafsu merupakan perihal paling sulit sebab ia adalah musuh dari dalam. Seperti pencuri, jika ia orang dalam rumah, maka sulit ditangani dan sangat berbahaya karena ia musuh sekaligus sosok yang dicintai.
Dan manusia itu tak mampu melihat aib kekasihnya, tak pernah melihat dan mengetahuinya. Maka dari itu, cara menanganinya, hendaknya engkau membelenggunya dengan belenggu takwa dan wara' agar meraih manfaat dalam menunaikan perintah dan meninggalkan larangan.
Ketahuilah, tak ada yang dapat merendahkan nafsu dan mencegah keinginannya kecuali tiga hal; Pertama, mencegah keinginan nafsu; kedua, membebankan beban ibadah kepadanya; ketiga, memohon pertolongan kepada Allah untuk mengalahkannya, dan merendahkan diri serendah-rendahnya kepada-Nya. Jika tidak atas pertolongan Allah, maka tidak ada yang bisa lepas dari kejahatan setan. |178
20.2 Amalan hati yang membuat hamba disiksa dan selamat#
88. Ketahuilah, ada empat kondisi hati sebelum berbuat dengan anggota tubuh:
1) Kehendak hati (khatir), yaitu kata hati, kecenderungan, keyakinan, dan tekad. Keinginan hati ini tidaklah disiksa karena tidak termasuk pilihan bebas. Demikian pula kecenderungan dan gelora nafsu sebab keduanya tidak termasuk pilihan bebas. Selain itu, keduanya adalah yang dimaksud dalam sabda Nabi SAW:
"Allah mengampuni umatku terhadap apa yang dikatakan hatinya."
Jadi, kata hati adalah hasrat-hasrat yang berbisik dalam hati, tetapi tidak diikuti keinginan untuk melakukannya. Sedangkan tekad dan kemauan tidak disebut sebagai kata hati.
2) Keyakinan dan keputusan hati yang selayaknya ia berbuat. Hal ini berupa keterpaksaan atau pilihan bebas sehingga kondisinya berbeda-beda. Keyakinan yang merupakan pilihan bebas akan disiksa, dan yang terpaksa tidak disiksa.
3) Tekad untuk berbuat. Yang demikian ini disiksa, kecuali jika tidak dikerjakan maka masih dipertimbangkan. Jika ditinggalkan karena takut kepada Allah SWT dan menyesali tekadnya, maka dicatat sebagai kebaikan.
Bila ada halangan untuk melakukan, atau ditinggalkan bukan karena takut kepada Allah, maka dicatat sebagai keburukan. Sebab, tekad adalah perbuatan hati yang menjadi pilihan bebas. Dalil tegas berkaitan dengan hal ini yaitu hadist Rasulullah SAW:
"Jika dua orang muslim saling membunuh dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh (sama-sama) masuk neraka." Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, ini untuk si pembunuh, lantas bagaimana denan yang terbunuh?" Nabi SAW bersabda, "Sebab ia juga hendak membunuh temannya."
Inilah dalil yang menegaskan bahwa orang yang terbunuh akan masuk neraka hanya karena hasrat, padahal ia terbunuh secara zalim. Lalu, bagaimana bisa ia menyangka dirinya tidak mendapat siksa disebabkan niat dan tekad yang termasuk dalam pilihan hati. |180
21. Hak Allah SWT yang Wajib Diperhatikan#
89. Jika engkau mengingat hidupmu karena kau akan hidup satu tarikan nafas lagi, atau satu jam lagi secara jelas dan pasti, berarti engkau termasuk orang yang berangan-angan. Dan itu merupakan bentuk kemaksiatan yang kaulakukan sebab turut menentukan hal-hal gaib. |182
90. Ketahuilah, Allah SWT tidak bisa didekati, melainkan dengan ketaatan kepada-Nya. Bentuk ketaatan tersebut seperti melaksanakan yang wajib atau sunnah, dan meninggalkan yang haram atau makruh.
Di antara bentuk ketakwaan adalah mendahulukan meninggalkan yang haram daripada makruh. Lain halnya dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang bodoh. Mereka menyangka telah ber-taqarrub kepada Allah, padahal mereka jauh dari-Nya.
Salah seorang dari mereka meninggalkan ibadah wajib demi memelihara yang sunnah, melakukan perbuatan haram demi meninggalkan yang makruh. Begitu pula banyak orang yang memelihara bentuk-bentuk ketaatan, sementara hatiya menyimpan riya, benci, dengki, sombong, ujub dengan amal, pamer, terhadap Allah dengan ketaatannya. |184
91. Pusaran ibadah ada pada tiga prinsip dasar; taufik, perbaikan, dan penerimaan. dan Allah SWT telah menjanjikan semua itu pada ketakwaan serta memuliakan semua orang yang bertakwa, baik mereka meminta maupun tidak. Jadi, takwa adalah tujuan. Tak seorang pun yang tidak melewatkannya, dan tak ada tujuan selainnya.
92. Keburukan itu ada dua macam: Utama, yaitu segala hal yang dilarang untuk mendidiknya, seperti perbuatan maksiat murni; dan tidak utama, yaitu semua perbuatan yang dilarang untuk mengayominya, seperti berlebihan dalam hal-hal layaknya makanan mubah yang dikonsumsi dengan syahwat. 185
93. batasan takwa menurut pendapat guru-guru kita adalah menyucikan hati dari dosa serupa yang belum pernah kaulakukan. sehingga seorang hamba memiliki tekad kuat meninggalkannya. hal ini berfungsi sebagai tameng untuk melindungi dirinya dari para ahli maksiat.
jika hatinya telah terbiasa melakukan hal tersebut, ia dikatakan sebagai orang bertakwa. maka, tobat dan tekad juga disebut takwa. dalam hal ini, tingkatan takwa ada tiga; takwa dari syirik, takwa dari bidah, dan takwa dari perbuatan atau maksiat berserta turunannya.
Adapun takwa jenis pertama adalah takwa wajib yang, jika ditinggalkan pasti mendatangkan azab; dan yang kedua, takwa kebaikan dan adab, jika ditinggalkan akan mengakibatkan penahanan, hisab, dan celaan. Barang siapa menunaikan takwa yang pertama, ia berada dalam takwa tingkat pertama. Itulah tingkatan orang-orang yang istiqomah dalam ketaatan.
Dan barang siapa menunaikan takwa kedua, maka ia menempati tingkatan takwa tertinggi. Dengan demikian, apabila hamba telah menggabungkan semua perilaku meninggalkan maksiat maupun berlebihan, berarti ia telah menyempurnakan arti takwa sekaligus menjalankan sikap wara' secara sempurna yang menjadi kendali problematika agama.
Hal-hal ini yang harus dilakukan di sini adalah menjaga lima anggota pokok: mata, telinga, lidah, perut, dan hati. Swlayaknya seseorang bersungguh-sungguh dalam menjaga kelima anggota ini dari segala hal yang dikhawatirkan membawa bahaya, seperti tindakan haram, sikap berlebih-lebihan, serta menghambur-hamburkan yang halal. |186
94. Dalam urusan ibadah, semua ini sama sekali tak bisa dihindari sehingga kita akan menyaksikan dan mengalami empat hal, yaitu; bahaya orang-orang yang bersungguh-sungguh, fitnah-fitnah hati yang merintangi, mengaburkan, dan merusak. Empat hal lainnya yang berlawanan (yaitu; tenang dan sabar, nasehat ulama yang meluruskan, menjelaskan yang kabur dengan ilmu yang konkrit, dan memperbaiki amalan dengan menyempurnakan syaratnya) akan menjamin kelurusan hati, pengaturan ibadah dan perbaikan bagi hamba. |186
95. Empat penyakit (utama) hati adalah; angan-angan, tergesa-gesa, dengki, dan sombong. Sedangkan empat kebajikan yaitu; memotong angan-angan, berhati-hati dalam segala urusan, menasehati manusia, serta tawadhu' dan khusyuk. Inilah dasar-dasar bagi kesembuhan dan kerusakan hati. Karena itu, berusahalah sekuat tenaga untuk menghindari penyakit-penyakit ini serta memperoleh kebajikan di atas, niscaya engkau meraih harapan dan tujuan. Insya Allah..
96. Panjang angan-angan akan menjadi penghalang seluruh kebajikan, sekaligus mendorong untuk mematuhi semua keburukan dan fitnah yang menjerumuskan makhluk ke dalam bencana. Oleh sebab itu, ketahuilah, jika engkau panjang angan-angan, maka dalam dirimu akan bergelora empat hal:
1) Meninggalkan ketaatan dan bermalas-malasan, sembari berkata, "Akan kukerjakan itu nanti."
2) Meninggalkan dan menunda-nunda tobat, seraya bergumam, "Kelak, aku akan bertobat."
3) Menjadikanmu cinta dan rakus terhadap dunia, sambil berkata, "Apa yang akan kupakai dan kumakan?" lalu kausibuk mengurusnya. Atau, setidaknya hatimu akan disibukkan olehnya. Maka sia-sialah waktumu dan akan banyak merasakan kesedihan.
4) Kerasnya hati dan lupa terhadap akhirat. Karena, jika engkau mengangankan hidup yang panjang, engkau tak akan mengingat akhirat, bahkan tidak akan mengingat kematian maupun alam kubur. Dengan demikian, pikiranmu hanya tercurah pada dunia hingga hatimu menjadi keras, sebagaimana firman Allah SWT., "Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras." (QS. Al-Hadid [57]:16) |187
96. Kelembutan dan kejernihan hati hanya dapat diraih dengan mengingat kematian, alam kubur, dan hiruk-pikuk akhirat. |188
98. Benteng untuk memotong angan-angan itu dengan mengingat serangan dan kedatangan maut tanpa disadari atau mendadak. Maka, pergunakanlah ungkapan ini guna menjaga diri karena ia sangat dibutuhkan, dan hindarilah desas-desus yang tak bermakna. Dan, Allahlah Sang Pemberi pertolongan. Sedangkan tergesa-gesa dan terburu-buru termasuk perilaku yang menghilangkan tujuan dan menjerumuskan ke dalam jurang kemaksiatan.
99. Pahamilah, fondasi dan kendali ibadah adalah sikap wara'. Sedangkan fondasi wara' yaitu melihat segala sesuatu secara mendalam serta meniti semua hal baik makanan, minuman, pakaian, ucapan, maupun perbuatan secara seksama. Jika seseorang tergesa-gesa, tidak pelan-pelan dalam memastikan dan memperjelas masalah maka ia tak akan mampu berpikir maupun berhati-hati dalam segala urusan. |190
100. Adapun batasan tergesa-gesa ada pada pikiran yang masuk ke dalam hati, lalu mendorongnya untuk berbuat sesuatu sejak pertama terbesit, tanpa berpikir. Sebaliknya, pelan-pelan adalah pikiran yang masuk ke dalam hati, lalu mengajaknya berhati-hati dalam segala hal sekaligus mengikuti dan melakukannya.
101. Berpikir (tawaqquf) adalah kebalikan dari gegabah (ta'asuf). Perbedaannya, berpikir itu terjadi sebelum melakukan pekerjaan sehingga bisa memenuhi hak setiap bagiannya. Sedangkan dengki merupakan perangai yang merusak ketaatan dan memicu tindakan kesalahan.
Perilaku ini juga melahirkan kelelahan dan perhatian terhadap hal-hal yang tak berguna, yang disertai dengan dosa, bahkan mengakibatkan butanya hati. Cukuplah kesesatan dan kerugian bagi pendengki. Ia menjadi musuh bagi nikmat Allah karena menentang kehendak-Nya dan membenci keputusan-Nya. |191
102. Sementara benteng nasihat yang mampu mencegah kedengkian adalah dengan mengingat perintah Allah untuk menjaga persaudaraan sesama muslim. Benteng dari benteng ini mengingatkan kewajiban untuk senantiasa mengagungkan Allah, meninggikan derajat-Nya, mengingat karamah-karamah yang dianugerahkan Allah di akhirat kelak, serta maslahat-maslahat agama maupun dunia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan, Allah SWT Pemberi Pertolongan.
103. Sikap sombong merupakan pikiran untuk meninggikan dan mengaggungkan diri sendiri, serta menuruti perilaku yang menafikan sikap rendah hati (tawadhu'). Kedua sikap ini, baik takabbur maupun tawadhu' itu ada yang umum dan khusus. Tawadhu' yang umum yaitu mencukupkan diri dengan pakaian,/rumah, dan lain-lain yang sederhana. Sebaliknya, sikap sombong adalah bermewah-mewahan dalam berpakaian, rumah, dan lain sebagainya. Demikian inilah kemaksiatan besar. |192
104. Kenalilah benteng tawadhu' yang umum. Selayaknya engkau mengingat titik berangkat dan titik ujungmu, serta berbagai macam penyakit dan kotoran yang sedang kaualami saat ini. Sementara benteng tawadhu' khusus dengan mengingatkan hukuman yang adil dari Allah SWT. Kesemuanya ini sudah mencukupi bagi orang-orang yang mampu melihat. Lailaha Illallah.. |193
22. Hakikat Akhlak Baik dan Perangai Buruk#
105. Orang yang tawadhu' menganggap dirinya memiliki harga diri, lalu ia rendahkan, sedangkan orang yang mengesakan tidak menganggap diri memiliki harga yang perlu direndahkan. Orang yang tawadhu' mengendalikan perbuatan-perbuatan bebasnya, hingga tidak menjadi sombong maupun penakut, meski mengalami kehinaan tanpa dikehendaki. |196
106. Perkataan yang baik (al-kalim ath-thayib) adalah tauhid dan makrifat. Dan amal saleh berarti kesucian hati, yang kemudian mengangkat derajat tauhid dan makrifat. Pengangkatan di sini artinya hadir dan terpengaruhnya hati oleh tauhid dan makrifat, agar mau menunduk dengan khudu', tenang, dan segan. Ia pun semakin dekat dengan Allah SWT. |198
107. Ketahuilah, semua akhlak terpuji maupun tercela berasal dari tiga sifat. Ketiganya laksana induk dari semua akhlak.
+ Sifat pertama, akal beserta potensi dan kesamaannya karena ilmu dan hikmah. Dan hakikat hikmahnya adalah kemampuan membedakan antara kebenaran dengan kebatilan dalam hal keyakinan; membedakan kejujuran dan kebohongan dalam ucapan; memilah antara perbuatan baik dan buruk.
+ Sifat kedua, marah yang mendorong timbulnya bahaya, yang memang diciptakan untuk fungsi ini. Kesempurnaan dan ketenangan potensi ini jika ia tunduk kepada hikmah. Bila hikmah mengisyaratkan kebebasan, maka ia bebas. Jika hikmah mengisyaratkan agar bersikap tertekan, ia pun tertekan layaknya anjing piaraan.
+ Sifat ketiga, potensi syahwat yang mendatangkan manfaat. Tabiat syahwat ini diciptakan untuk patuh pada akal sehingga kebaikan dan ketenangannya pada saat ia tunduk pada hikmah. Maka ketahuilah, yang dituntut akhlak yaitu sikap moderat dan berada di tengah-tengah dalam segala perkara. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT, "Dan janganlah kaujadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan janganlah kau terlalu mengulurkannya." (QS. Al-Isra' [17]:29)
108. Tindakan gegabah melahirkan rekayasa, tipu daya, kelicikan, dan lain-lain; kecenderungan berlebihan melahirkan kebodohan, kedunguan, ketololan, dan kegilaan; kedunguan yaitu sedikitnya pengalaman; kebodohan berarti benarnya tujuan disertai perilaku yang salah; kegilaan berarti kerusakan tujuan maupun perilaku. |199
109. Adapun potensi marah mengandung ketenangan yang disebut dengan keberanian. Ia melahirkan kedermawanan, keberanian, menahan amarah, dan menepati janji. Potensi marah juga memiliki kecenderungan berlebihan yang melahirkan sikap sombong. ujub, kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Ia juga mengandung kecerobohan yang melahirkan sikap meremehkan, merendahkan, panik, dan membatasi diri sekedar untuk melakukan kewajiban.
110. Sebaliknya, potensi syahwat memiliki ketenangan yang disebut kehormatan ('iffah). Ia melahirkan sikap dermawan, sabar, wara', suka membantu, dan tidak tamak; sikap berlebihan yang melahirkan sikap tamak, rakus, dan lain-lain; kecerobohan melahirkan sikap dengki, senang mengumpat, mencaci, dan lain-lain.
Dengan demikian, induk akhlak terpuji adalah hikmah, keberanian, kehormatan, dan keadilan, serta menyempurnakan ketiganya. Selain apa yang telah disebut di atasa adalah turunan dari keempat sifat ini. |200
22.1 Batasan, Hakikat, Puncak, dan Tanda-tanda Tawadhu'#
111. Batasan tawadhu' yaitu mengendalikan berbagai keadaan dan pilihan agar tidak berlebihan dan ceroboh, hingga engkau tidak sombong atau hina. Sementara hakikat tawadhu' adalah hina, tunduk, dan patuh kepada kebenaran dengan mudah. Kebenaran di sini digunakan untuk menyebut Allah dan perintah-perintah-Nya. Puncaknya, ketika seseorang tidak merasa hina ketika dipuji dan tidak merasa sakit ketika dicela.
112. Yang terpenting ialah ia dalam keadaan ridha dan merasa kenikmatan karena semuanya terjadi menurut kekuasaan, ilmu, dan kehendak Allah SWT. Ia tak merasa rendah karena tak mampu mengetahui hikmah Allah. Keindahan perlakuan-Nya hanya bisa diketahui dengan kehinaan. Seseorang yang sombong, bodoh, dan lalai, maka pandangannya terbatas pada melihat pelaksanaan perbuatan. Semakin rendah dirinya, ia akan semakin takabur. Dalam hal ini, para ulama Allah tidak menyaksikan selain Allah dan tidak pernah mencurigai keputusan-Nya. Bahkan mereka mengetahui hal tersebut merupakan tanda kemuliaan mereka. |201
113. Beberapa imam menyebutkan, makrifat itu tak akan ditemukan, kecuali dalam hati orang-orang tawadhu' yang menjadikan kehinaan sebagai sifat pribadi mereka. Dengan kekuasaan dan pandangan Allah, mereka tidak merasa sempurna ketika diangkat sampai langit, dan tak merasa kekurangan ketika direndahkan serendah-rendahnya. Ini disebabkan mereka sudah tak memiliki kehendak maupun pilihan karena mengetahui bahwa kesempurnaan mutlak itu terletak pada apa yang diputuskan dan ditentukan Allah untuk mereka.
Dan karena mereka menemukan tambahan dari Allah dalam ahwal mereka. Inilah derajat kaum Muqarabbin. Adapun sikap tawadhu' orang-orang saleh sejauh makrifat mereka terhadap diri sendiri dan Tuhan mereka. Sedangkan tanda sikap tawadhu'-nya dengan tidak menolak kebenaran yang diperintahkan. Jika ia merasakan ketentraman karena hal itu, berarti ia sombong dalam menerima kebenaran sekaligus merupakan bentuk kemaksiatan besar. Dan, Allah Mahatahu. |202
23. Makna Pikiran, Pendahuluan, dan Turunannya#
114. Pikiran didahului dengan mendengar, sadar, dan mengingat. Buah dari semua ini adalah ilmu. Karena barang siapa yang mendengar berarti ia sadar; siapa yang sadar akan mengingat; siapa yang ingat akau berpikir; barang siapa berpikir akan mengetahui; barang siapa mengetahui, maka akan mengamalkan jika ilmunya adalah ilmu untuk diamalkan. Namun, jika ilmunya ditunjukkan untuk ilmu itu sendiri, ia akan merasa bahagia. Dan kebahagiaan menjadi puncak pencarian.
# TAMBAHAN: Sayyidina Ali ibn Abi Tholib Radhiyallahu anhu pernah mengatakan "Agama seseorang itu bisa dilihat dari siapa orang dekatnya". Dari perkataan beliau, Imam Al-Ghazali mampu menyingkapi maksud Sayyidina Ali lebih jelas dan terang. Proses buah suatu ilmu dalam kehidupan seseorang bergantung dari apa yang ia dengar, sadar, dan ingat. Tentunya ketiga aspek ini memerlukan variabel lingkungan sekitarnya untuk dapat membuahkan ilmu bagi dirinya sendiri.
# Di sini, faktor lingkungan memiliki pengaruh yang kuat dalam memberikan hikmah atau istidraj dai sebuah ilmu yang ia pelajari. Meskipun semua itu dikembalikan kepada pribadi seseorang daripada menjadikan lingkungannya sebagai faktor utama, namun hal ini tidaklah mudah dan memiliki kemungkinan yang kecil untuk individu dapat mengambil keputusan yang benar dalam agama.
115. Adapun hakikat kesadaran (yaqzhah) adalah kewaspadaan hati terhadap kebaikan. Hal ini ditandai dengan bangun dan bangkit dari himpitan kekosongan (pikiran). Hukum tentang kesadaran ini wajib dilakukan dengan bergegas dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan, dan hal tersebut berada pada setiap keadaan (tingkatan). |205
116. Mengingat berarti mengulang-ngulang pengetahuan agar menancap dan kokoh dalam hati. Berpikir (tafakkur) sama halnya jika engkau menggabungkan dua ilmu yang selaras guna mengetahui apa yang kaucari. Dengan syarat, tanpa ada keraguan dalam kedua ilmu tersebut, kosongnya hati dari keduanya, dan memikirkan keduanya secara mendalam. |206
117. Ilmu itu tercakup dalam lima kategori.
a) Pertama, ilmu-ilmu wajib, yaitu malaikat, kitab-kitab, para rasul dan Hari Akhir.
b) Kedua, ilmu perihal ibadah yang berkaitan dengan jasmani dan harta benda.
c) Ketiga, ilmu tentang hal-hal yang berhubungan dengan panca indra, seperti lisan, kemaluan, perut, pendengaran, dan penglihatan.
d) Keempat, ilmu mengenai perilaku tercela yang harus dihilangkan dari dalam hati.
e) Kelima, ilmu berkenaan dengan akhlak terpuji yang menjadi kewajiban hati kepada Allah SWT. |207
24. Makna Tobat dan Buahnya; Lari, Kembali, dan Rendah Hati#
118. Hakikat tobat adalah kembali dari maksiat menuju taat, dari jalan yang jauh menuju jalan yang dekat, serta mengatur ilmu, hal, dan amal, begitu juga dalam pengaturan pada setiap maqam. Ilmu merupakan salah satu pengikat keimanan kepada Allah SWT. Sementara itu, hal adalah perasaan yang lahir dari tobat, dan amal yaitu perbuatan-perbuatan yang lahir dari perasaan di dalam hati dan anggota tubuh. |211
25. Sabar dan Buahnya; Riyadah dan Tahdzib#
119. Riyadhah berarti melatih nafsu untuk melakukan kebaikan. Membawanya dari yang ringan menuju yang berat secara lembut dan bertahap, hingga nafsu ini naik mencapai suatu keadaan, yang mana amal yang berat menjadi ringan dan mudah baginya. |215
26. Khauf dan Turunannya#
120. Ilmu khauf (takut) yaitu menyaksikan sifat-sifat ketuhanan dan kaitannya dengan perbuatan mendekatkan dan menjauhkan, membahagiakan serta menyengsarakan, tanpa perantara maupun sesuatu yang mendahului.
Khauf ini ditujukan pada diri sendiri, dan harus diyakini karena termasuk bagian keimanan kepada Allah SWT. Dan faedahnya bisa dirasakan oleh mereka yang berpindah dari melihat banyaknya amal menuju ketenangan dan keamanan dari rekayasa Allah. Sebab tidak ada yang merasa aman dari rekayasa Allah, melainkan orang-orang yang merugi.
Khauf yang tidak ditujukan untuk diri sendiri ada dua macam:
1) Pertama, takut dicabut nikmatnya. Takut semacam ini mendorong untuk memiliki adab dan melihat nikmat.
2) Kedua, takut terhadap hukuman yang diakibatkan oleh kejahatan. Kadar wajibnya, hendaknya takut ini mendorong untuk meninggalkan larangan dan mengerjakan perintah.
Dan hal atau keadaan khauf ini sebaiknya disertai rintihan dan kegelisahan hati karena membayangkan sesuatu yang tidak disukai atau lepas darinya. Jika keduanya adalah hal yang terpuji, hukumnya wajib atau sunnah. Bila merupakan sesuatu yang tidak disukai, maka hukumnya menjadi terlarang atau makruh. |219
121. Hakikat qabdh berarti mengetuk hati. Kadangkala sebabnya diketahui sehingga hukumannya sama dengan kesedihan, dan terkadang tidak diketahui dan menjadi hukuman bagi murid karena gegabah di kala senggang (basth).
122. Hakikat isyfaq yaitu bersatu dan seimbang antara khauf dan raja': hakikat khusyuk berarti ketenangan dan diamnya hati beserta anggota tubuh, sebab hati menyaksikan sesuatu yang agung atau menakutkan secara nyata. Dan hakikat wara' adalah menghindari sesuatu karena takut terhadap bahaya yang ditimbulkan olehnya. Allah SWT Mahatahu.. |220
28. Kefakiran Beserta Variannya#
123. Kefakiran adalah kehilangan dan butuh. Dalam konteks ini, "butuh" ada dua macam; mutlak dan terbatas. "Butuh" mutlak adalah butuhnya seorang hamba kepada pencipta yang menciptakannya, kepada keabadian setelah diciptakan, dan kepada hidayah menuju penciptanya.
Inilah kefakiran kepada Allah SWT. Karena Allahlah Penciptanya, yang mengabdikannya, dan memberinya hidayah. Kefakiran semacam ini hukumnya wajib sebab termasuk bagian keimanan kepada Allah dan karena Allah. Dan ahwal yang lahir dari makrifat ini pun menjadi kesaksian hamba terhadap kefakiran dan hajat kepada-Nya selama-lamanya.
Adapun "butuh" yang terbatas yaitu kebutuhan hamba kepada sarana-sarana yang membuat dirinya mampu berdiri tegak dan bisa diraih dengan harta. Ia adalah sesuatu yang hilang sekaligus dibutuhkan. |227
124. Kefakiran mutlak dimaksudkan untuk Zatnya sendiri karena ia berhubungan dengan Allah, sedangkan kefakiran terbatas ditujukan untuk selain dirinya dengan menyendiri dan mengasingkan diri menuju Allah SWT.
Keduanya merupakan sarana untuk menjadi kaya karena Allah, yaitu kebergantungan hati kepada-Nya. Kekayaan karena Allah menjadi perantara untuk melepaskan diri dari selain Allah. Maka dari itu, tak ada kewajiban dalam tajrid selain meyakini bebasnya Al-Qadim dari yang baru (makhluk). Dan Allah Mahatahu.. |228
29. Zuhud dan Mendahulukan Orang Lain#
125. Buah dari zuhud adalah mendahulukan orang lain (itsar), sekaligus bentuk kedermawanan (futuwwah) paling tinggi. Kedermawanan berarti mempersembahkan sesuatu yang tidak dibutuhkan secara suka rela, bukan terpaksa. Dan itsar bermakna mencurahkan segala sesuatu yang dibutuhkan orang lain tanpa ganti dan tanpa tujuan, selain meniru akhlak Allah SWT.
Selain itu, kedermawanan bersumber dari akhlak mulia. Jadi, barang siapa menunaikan kewajiban syariat dan bersikap mulia, ia termasuk orang-orang yang dermawanan. Barang siapa berbaur dengan anak-anak dunia tentang apa yang mereka alami, ia sama halnya orang yang tak memiliki kemurahan hati maupun akhlak mulia.
Sedangkan maqam murad yaitu keadaan seseorang yang mengenali hakikat persoalan tanpa penyangkalan (munazi') maupun pertentangan (mudafi'). Karena tak ada sesuatu pun yang mampu melalaikannya dari Allah SWT. Dan, Allah Mahatahu. |232
30. Muhasabah dan Manfaatnya; I'tisham dan Istiqomah#
126. Hakikat Muhasabah berarti memerinci perbuatan yang telah lalu dan yang akan datang. Berdasarkan ijmak ulama, muhasabah hukumnya wajib, dan menuntut untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah (i'tisham). Selain i'thisam, ada juga istiqamah (lurus dan teguh).
Perbedaan antara i'tisham dan istiqamah yaitu: I'thisam artinya bepegang kepada Kitab Allah SWT an memerhatikan batasan-batasannya, sedangkan istiqamah bermakna teguh dan lurus, serta tidak condong kepada salah satu ujung dari hal-hal yang dijadikan pegangan.
Disamping itu, istiqamah ditujukan untuk dirinya sendiri maupun selain darinya. Istiqamah untuk diri sendiri karena ia menjadi perantara untuk memasukkan maqam al-jam' (penyatuan) dari lembah perpecahan. |235
31. Syukur dan Kebahagiaan Sebagai Ahwal dan Hikmah Sebagai Amalnya#
127. Kegembiraan berarti syukur sebab ditujukan untuk dirinya sendiri. Hukumnya pun wajib, dan termasuk bagian serta buah dari iman kepada Allah SWT. Demikian pula dengan perilaku syukur yang ditujukan untuk dirinya sendiri sebab memanfaatkan kenikmatan sesuai tujuan penciptaan dan menjadi kesempurnaan hikmah. |239
Sedangan yang ditujukan untuk selain dirinya guna memelihara nikmat-nikmat yang ada selain dirinya guna memelihara nikmat-nikmat yang ada sekaligus menambahkannya. Singkat kata, syukur artinya menggunakan nikmat sesuai tujuan pemberiannya.
Dengan begitu, barang siapa memiliki ahwal yang sedang, hingga mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, berarti ia adalah orang bijak. Sebab hikmah itu (kebikjasanaan) sama halnya meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, baik ilmu maupun amal. Dan Allahlah Pemberi Pertolongan. |240
32. Tawakkal dan Adabnya#
128. Manakala engkau mengetahui bahwa Allah SWT itu Berdiri Sendiri dan Maha Mendirikan yang lain, inilah ilmu yang menuntut tindakan tawakal. Kemudian, engkau memahami keluasan ilmu dan hikmah-Nya, serta kesempurnaan kekuasaan-Nya.
Sehingga ahwal yang lahir dari ilmu ini berupa penyandaran dan ketenangan hati kepada Allah, serta tidak kacau karena bergantung kepada-Nya. Tak ada kewajiban terhadap ilmu dan ahwal tawakal selain menahan diri dari sebab-sebab terlarang. Namun meskipun mulia, tawakal ini lebih rendah derajatnya daripada tafwidh dan taslim.
Sebab tujuan tawakal untuk mendatangkan keuntungan dan menolak kerugian (bahaya), sedangkan hakikat tafwidh dan taslim berarti patuh dan tunduk terhadap perintah, tanpa pilihan dalam segala yang telah ditentukan Allah SWT.
129. Adapun Tsiqah artinya mengikat hati dan tidak terputus terhadap pembenaran-pembenaran yang dikandungnya. Tsiqah merupakan penyempurna bagi semua maqam dan ahwal. Jika ridha itu terjadi setelah adanya sesuatu yang diputuskan, tafwidh dan taslim terjadi sebelum ada sesuatu yang diputuskan. |243
130. Jadar yang wajib dari ridha manakala ia ridha dengan akal, meski tabiatnya tidak senang karena ketidaksenangan berada di luar pilihan hamba. Jadi, barang siapa dalam pikirannya tidak menyukai sesuatu yang digunakan Allah untuk menguji para hamba-Nya di dunia maupun di akhirat, atau mengeluh dengan lidahnya maka ia telah berdosa dan melanggar kewajiban ridha. Dan Allahlah Maha Pemberi pertolongan. |244
33. Macam-macam Niat: Qashd, Azm, dan Iradah#
131. Niat adalah sarana selain iman untuk memperoleh kebahagiaan yang agung di dunia maupun di akhirat. Jika engkau mengetahui hal ini, kau harus memahami hakikat niat.
Membentenginya dari bagian-bagian duniawi yang membuatnya keruh sebagai bentuk kewajiban, dan dari tujuan-tujuan dan balasan-balasan ukhrawi sebagai anjuran (sunnah). Dengan ungkapan yang lebih sederhana, niat bertujuan membedakan antara satu maksud dengan maksud lainnya.
Selain niat, ada pula qashd, 'azm, dan iradah. Qashd berarti memusatkan perhatian (himmah) terhadap tujuan yang dimaksud; 'azm yaitu menguatkan dan menggiatkan tujuan tersebut; iradah artinya menyingkirkan rintangan-rintangan yang melemahkan.
34. Kejujuran dan Tanda-Tandanya#
132. Meski keikhlasan beserta keagungannya itu memerlukan kejujuran, tetapi kejujuran tidak membutuhkan apa pun. Karena hakikat keikhlasan dalam beribadah yaitu menghendaki Allah dengan berlaku taat. Karena, terkadang Allah menjadi tujuan seseorang dalam shalat, tetapi justru ia melalaikan dengan ketidakhadiran hatinya.
133. Kejujuran yaitu menghendaki Allah dengan beribadah disertai kehadiran bersama-Nya. Jadi, setiap orang yang jujur berarti ikhlas, tetapi tidak setiap orang yang ikhlas itu jujur. Inilah makna terpisah (infishal) sekaligus bersambung (ittishal). Terpisah dari selain Allah dan bersambung dengan-Nya melalui kehadiran hati. |251
134. Adapun tahqiq artinya membedakan berbagai maqam dan akhwal satu sama lain, dan memurnikannya dari segala sesuatu selain Allah dan noda-noda. Tafrid bermakna berdirinya hamba bersama Allah tanpa ilmu maupun ahwal. Sebab ia menyaksikan kesendirian Allah dalam menciptakan segala wujud dan kekuasaan-Nya mencakup segala sesuatu. |252
35. Ridha dan Ketenangan Hati#
135. Al-Harits berkata, "Ridha adalah ketenangan hati di bawah berlangsungnya keputusan." Lain halnya dengan Dzun Nun yang mengatakan, "Ridha artinya kebahagiaan hati dengan berjalannya qadha."
Berkaitan dengan masalah ini, Rasulullah bersabda,
*"Seseorang yang ridha dengan Allah sebagai tuhan, ia akan mencicipi nikmatnya iman."
Demikian pula sabdanya,
*"Sesungguhnya Allah dengan hikmah-Nya meletakkan ketenangan dalam ridha dan yakin. Dan meletakkan duka dan sedih dalam ragu dan marah." |255
136. Al-Junaid mengatakan, "Ridha berarti kebenaran ilmu yang sampai ke dalam hati. Jika hakikat ilmu menyentuh hati, ilmu tersebut membawanya ke dalam ridha. Tidak seperti takut (Khauf) dan pengharapan (raja'), ridha dan mahabbah merupakan ahwal yang tak pernah berpisah dari hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Dan di surga ia pun tak bisa lepas dari keduanya."
137. Sirri berkata, "Lima hal yang termasuk perangai mulia kaum Muqarabbin; ridha kepada Allah, baik berkaitan dengan hal yang kausukai atau tidak; berusaha mencintai-Nya; Malu kepada Allah; damai karena-Nya; gerah terhadap selain Dia."
138. Suatu saat Abu Sa'id ditanya, "Mungkinkah seseorang ridha sekaligus marah?" Ia menjawab, "Iya. Bisa jadi ia ridha kepada Tuhannya, dan marah terhadap nafsu serta segala hal yang memutuskannya dari Allah SWT." |256
139. Ali ra. berkata, "Barang siapa duduk di atas hamparan seraya meminta, berarti ia tidak ridha kepada Allah dalam setiap kondisi."
140. ++ Di hadapan al-Junaid, Asy-Syibli mengatakan, "Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah." Maka Al-Junaid berkata, "Ucapanmu itu kaukatakan saat sesaknya dada." Asy-Syibli menjawab, "Benar." Lalu Al-Junaid melanjutkan, "Sesaknya dada karena tidak ridha terhadap ketetapan (qadha) Allah." |257
36. Larangan Bergunjing#
141. Suatu saat ada kabar yang disampaikan kepada Hasan Bashri, "Seseorang telah menggunjingmu," Maka, Hasan Bashri pun mengirimkan sebuah talam berisi manisan kepada orang tersebut sambil berujar, “Aku mendengar engkau telah menghadiahkan kebaikanmu untukku, maka aku ingin membalasnya.”
37. Makna Futuwwah (Kedermawanan)#
142. Kedermawanan orang awam dengan harta; kedermawanan orang khas dengan harta dan perbuatan; kedermawanan para khasul khas dengan harta, perbuatan, dan ahwal; kedermawanan para nabi dengan harta, perbuatan, dan asrar. Inilah orang yang dalam batinnya mengakui, dan lahirnya tidak membuat-buat maupun riya. Rahasia antara dirinya dengan Allah tak bisa dilihat oleh dadanya sendiri, terlebih orang lain. |268
143. Al-Fatiy adalah orang yang menghancurkan berhala; berhala manusia. Di antara kebiasaan seorang fatiy lainnya, yaitu tidak menjauhi orang miskin karena kemiskinannya, dan tidak mendekati orang kaya karena kekayaannya. |269
Jika bergaul, ia tidak berubah tatkala teman sepergaulannya membawa sesuatu yang banyak atau sedikit, dan tidak membuat merah wajah orang lain berkaitan dengan hal yang tidak dianjurkan syariat. Tidak mengambil keuntungan dari sahabat, dan apa yang telah keluar darinya tidak pernah kembali.
144. Kemurahan hati artinya mendahulukan bagian orang lain daripada bagianmu sendiri secara mutlak, baik dunia maupun akhirat. Selain itu, bergegas memberi sebelum diminta, tidak mengharap balasan atas apa yang diberikan, cepat-cepat dalam memberi, serta menganggap pemberiannya kecil dan menutupinya. |270
38. Perihal Akhlak Mulia#
145. orang yang berakhlak mulia berarti telah mendorongmu meminta kepadanya dan selalu meminta maaf, berlawanan dengan pelaknat yang selalu membanggakan diri. Ia senantiasa melupakan kesalahan saudara-saudaranya, bergegas memenuhi hajat mereka, serta mencurahkan dunia untuk orang yang membutuhkannya. |274
39. Qana'ah#
146. Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa menginginkan teman maka Allah cukup baginya. Siapa yang menginginkan penghibur maka Al-Quran cukup baginya. Barang siapa menginginkan kekayaan makan qana'oah cukup baginya, siapa pun menginginkan penasehat maka kematian cukup baginya. Dan, barang siapa yang empat hal ini tidak mencukupi baginya maka neraka akan cukup baginya."
147. Diceritakan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda:
"Jadilah orang yang wara' niscaya engkau menjadi orang yang paling taat beribadah. Jadilah orang yang qana'ah, pastilah engkau menjadi manusia muslim yang paling bersyukur, dan sedikitkanlah tertawa karena banyak tertawa mematikan hati." |278
148. Allah SWT meletakkan lima hal pada lima tempat; kehormatan dalam taat, kehinaan dalam maksiat, kewibawaan dalam shalat malam, hikmah dalam perut yang kosong, dan kekayaan dalam qana'ah. |279
40. Tentang Peminta-Minta#
149. Barang siapa meminta-minta, padahal ia memiliki makanan pokok untuk satu hari, itu sama halnya telah merampok orang-orang lemah dan miskin. Barang siapa berniat mencari akhirat, Allah akan menempatkan kekayaannya di dalam hati dan menjadikannya sebagai orang kuat, sementara dunia akan mendatanginya dengan suka rela. Dan, siapa yang bertujuan mencari dunia maka Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, kekuatan dan urusannya pun tercerai-berai.
Tidak ada dunia yang datang kepadanya selain yang sudah ditentukan untuknya. Barang siapa membuat perhatiannya menjadi satu, Allah mencukupinya dalam urusan dunia maupun akhirat. Barang siapa perhatiannya bercabang-cabang maka Allah tidak peduli di lembah manakah ia binasa. Seluruh dunia dari awal hingga akhir tak bisa menyamai satu kesedihan, terlebih umurmu yang pendek, sementara dunia yang kauraih hanya sedikit. |283
150. Sekiranya seseorang mengetahui apa yang ada dalam tindakan meminta-minta, tak seorang pun yang akan melakukan tindakan tersebut. Sebaliknya, andaikan orang-orang mengetahui apa yang terdapat dalam hak orang yang meminta-minta, tentulah merea tak akan pernah menolak orang yang meminta kepadanya. |284
41. Kasih Sayang Terhadap Makhluk Allah#
151. Ketahuilah, kasih sayang terhadap makhluk Allah berarti mengagungkan urusan Allah SWT. Maka dari itu, hendaknya engkau memberikan apa yang mereka minta darimu, tidak memebebani di luar kemampuan mereka, dan tidak menyapa mereka dengan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan ketahui. Selayaknya engkau bahagia atas segala hal yang menjadikan mereka bahagia, dan bersedih dengan sesuatu yang telah membuat mereka sedih.
Engkau berpikir bagaimana mewujudkan kepentingan keagamaan dan duniawi mereka, dan bagaimana cara menolak apa yang membahayakan urusan agama dan dunia mereka. Bahkan, seumpama seekor lalat jatuh ke wajah salah seorang dari mereka, tentu kau akan bersedih hati.
Oleb sebab itu, sepatutnya menjaga hati seorang mukmin secara syar'i itu lebih kausukai daripada sekian kali pergi haji dan perang. Sebaiknya kau lebih memilih kehormatan saudaramu daripada kehormatan sendiri, dan lebih memilih kehinaan dirimu daripada kehinaan saudaramu. |287
42. Penjelasan Perihal Bahaya Dosa#
152. Dan, dia yang durhaka kepada-Nya maka Dia tundukkan orang itu kepada semua hal dan menjadikan segala sesuatu menguasainya. Andaikan dalam keterus-menerusan melakukan dosa tidak ada balasan, melainkan segala hal yang menimpanya, seperti keluasan, kesempitan, sehat, dan sakit itu menjadi hukumannya, maka cuuplah itu untuknya. Sekiranya dalam meninggalkan maksiat tidak ada balasan selain kebalikannya, hal itu pun sudah mencukupinya. |291
43. Shalat Ahlul Qurb#
153. Jika engkau memasuki shalat, lupakanlah dunia beserta penghuninya. Menghadaplah kepada Allah SWT layaknya engkau menghadap kepada-Nya pada hari kiamat kelak. Ingatlah ketika kau berdiri di hadapan Allah tanpa juru bicara antara kau dan Dia. Dia menghadap kepadamu. Kau pun berbisik kepada-Nya dan mengetahui siapa dirimu di hadapan-Nya karena Dialah Sang Raja yang Maha Agung. |295